Perburuan Kuso Matabiru Tak Terkendali, 18 Ekor Ditembak Mati

Halmaherapedia– Kuskus mata biru atau Phalanger Ternate merupakan salah satu kekayaan satwa endemik Pulau Ternate, Maluku Utara. Keberadaan satwa nokturnal ini  makin langka karena perburuan yang massif.  Hampir setiap malam   terus diburu untuk  dikonsumsi.

Senin (29/12/2025)  malam empat  warga asal Halmahera Barat (Halbar) memburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan  dilakukan di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate. Empat  warga tak bertanggungjawab  itu menembak mati 18   ekor terdiri dari 14 induk kuskus mata biru dan empat anak   dan satu kadal air atau soa-soa layar.

Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku, awalnya saat santai di sekitaran Pulo Tareba,  ia  melihat ada cahaya senter di  seberang Danau Tolire. Dia sangat   curiga  ada orang  berburu kus-kus , karena nyala senter tidak teratur. Junaidi langsung mengajak  teman- temannya menuju  seberang Danau Tolire. Saat tiba mereka mendengar bunyi senjata air soft gun (senjata angin,red).

“Karena jalan kurang bagus kami balik dan pakai motor pantau di seberang Tolire, tapi tidak ada.   Lalu kami menuju ke  RT 04 Kelurahan Loto. Saat sampai sekitar pukul 00.30 WIT,  ada empat  warga Jailolo Halmahera Barat  baru selesai berburu. Mereka   bawa dua karung hasil buruan kus-kus  18 ekor dan satu kadalair (soa soa layar,red),” katanya,  ditemui  Selasa  dini hari(30/12/2025).

Diakuinya, perburuan satwa endemik di pulau Tareba sudah terjadi  tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Namun peburun  pada 2025 ini termasuk  terbanyak. Sebelumnya, pernah diburu pada 2023 dan 2024 lalu sebanyak dua sampai tiga ekor.  Warga  pemburu Kuskus Matabiru  semua   dari Halmahera Barat.

“Kami  tanya mengapa   berburu Kuskus Matabiru, mereka bilang  untuk konsumsi. Setelah itu  dua pucuk senjata  disita dan dikubur 18 Kuskus  dan satu Soa-Soa yang sudah diburu. Ini perburuan Kuskus  paling banyak,” tuturnya.

Pengelola Wisata Pulo Tareba ini bilang, dari empat  warga Halmahera Barat yang berburu  satu diantaranya diduga aparat. “Tadi setelah  Babinsa lakukan interogasi ada  satu aparat, tapi  perlu di kroscek lagi,” katanya.

Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah   berulang kali. Sayangnya  belum ada sikap tegas  Pemerintah Kota (Pemkot)  mendorong  Perda perlindungan satwa endemic ini. Padahal sebelumnya bersama para aktivis lingkungan  telah menggelar  aksi,  mendesak walikota segera membuat regulasi  melindungi  Kuskus Matabiru.

“Kala itu Pak Walikota sepakat, tapi tidak ada  langkah. Kalau pemerintah peduli  harusnya mereka bisa mengambil langkah . Sehingga tidak   berulang. Hal ini  karena satwa  dilindungi  ini sudah terancam punah di Ternate,” tegasnya.

Kus-kus mata biru yang ditembak oleh para pemburu,foto adil

Terpisah  Perwakilan Kepala Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ternate Ahmad Do Yahya  dikonfirmasi Selasa (30/12/2025 terkait  perburuan satwa endemik Kuskus Mata Biru ini mengaku belum mengetahui informasi lengkapnya  “Kita belum tahu soal ini, nanti cari tau siapa yang berikan info itu. Soalnya kami belum dapat info lengkapnya,”  kilahnya. Dia bilang  Kuskus Mata Biru adalah satwa endemik yang hanya ada di dua daerah  Ternate dan Tidore. “Satwa ini dilindungi dan tidak boleh diburu. Satwa ini sudah  tidak boleh diburu,”pungkasnya.

Sepanjang  2024, tercatat  10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Misalnya  Januari 2024, warga mengamankan  lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.

Kasus terakhir terjadi beberapa waktu lalu. Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat   menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.  Termasuk  3 ekor kuskus  dewasa  bersama  bayi yang baru lahir. Para pemburu itu diketahui diamankan oleh anggota komunitas Pulo Tareba yang  mengelola kawasan ekowisata Danau Tolire. Sayangnya  para pelaku dilepas karena tidak ada dasar aturan untuk diproses hukum.

Meski begitu, senapan  dan satwa yang dibunuh ditahan sebagai barang bukti.  Kelima orang ini kemudian diperiksa Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Kepolisian.

Junaidi  mengatakan, saat diinterogasi, para pelaku mengaku berburu kuskus mata biru untuk dikonsumsi.Mereka mengaku  tidak tahu kalau hewan itu dilindungi.

“Kami resah dan marah atas kejadian ini. Sangat merusak, menghabiskan, dan menghancurkan keberadaan satwa khas Ternate ini,” katanya.

Perburuan kuskus sudah berulang kali tetapi karena tidak ada aturan yang melindungi hewan endemik ini sehingga pelaku selalu dilepas begitu saja. Di hutan Kelurahan Takome  Kota Ternate  merupakan  salah satu habitat kuskus jenis ini. Hampir setiap hari secara sembunyi- sembunyi terus diburu. (adil)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *