Kebakaran Hutan dan Lahan Masih Terjadi di Sejumlah Tempat
Halmaherapedia—Kemarau panjang belum juga beranjak. Hingga beberapa hari belakangan ini kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah tempat di Maluku Utara.
Dalam periode 1–6 Oktober 2026, kebakaran dan dampak asap terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kota Tidore Kepulauan, Kota Ternate, Halmahera Barat, Pulau Taliabu, Pulau Morotai dan Halmahera Selatan.
Di Kota Tidore Kepulauan, kebakaran terjadi di Desa Kayasa dan Gosale, Kecamatan Oba Utara, pada 1 Oktober. Laporan penanganan kebakaran menyebut kondisi lahan yang kering dan angin kencang membuat api cepat menyebar. Laporan yang dihimpun, menyebutkan sedikitnya 21 hektare lahan terbakar. Angka itu berasal dari sekitar 9 hektare di Kayasa-Gosale, sekitar 10 hektare di kawasan Taman Love, Ternate, dan sekitar 2 hektare lahan gambut di Pulau Taliabu.
Lantas kapan hujan akan segera turun?
Soal ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di Maluku Utara berlangsung bertahap mulai akhir Oktober hingga Desember 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, dalam rilis resminya bersama pemerintah provinsi Selasa (6/10/2026) mengatakan, sejumlah wilayah akan lebih dahulu memasuki musim hujan, sementara wilayah lainnya menyusul.
“Sesuai pantauan kami, prediksi hujan terjadi bertahap melanda wilayah Maluku Utara,” kata Desindra.
Dijelaskan, dalam pemutakhiran prediksi musim hujan 2026/2027, BMKG menyebut awal musim hujan di Indonesia memang tidak berlangsung serentak. Secara nasional, sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. BMKG juga memperkirakan musim hujan tahun ini cenderung lebih lambat dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh El Nino yang berada pada kategori sangat kuat.
Oktober hingga Desember
Untuk Maluku Utara, awal musim hujan diperkirakan dimulai Oktober dasarian III di sejumlah wilayah.
Wilayah itu meliputi Halmahera Barat, Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan. Wilayah lainnya diperkirakan menyusul pada November dan Desember.
Pola ini menunjukkan datangnya hujan di Maluku Utara tidak dapat dipahami berlaku untuk seluruh kabupaten dan kota. Kondisi geografis kepulauan membuat awal musim hujan berlangsung berbeda antarwilayah.
“BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan dengan sifat normal. Namun, durasi musim hujan 2026/2027 secara nasional diprediksi lebih pendek dari kondisi normal di sebagian besar wilayah,” jelasnya.
Karena itu datangnya hujan tidak serta-merta berarti risiko kekeringan dan kebakaran langsung berakhir. Kabar datangnya musim hujan muncul ketika sejumlah wilayah Maluku Utara masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Di Ternate, kebakaran terjadi di kawasan Taman Love, Kelurahan Moya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru di Kelurahan Takome menambah persoalan karena asap berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat di sekitar kawasan.
Kebakaran di Gunung Gamkonora, Halmahera Barat. Kebakaran tersebut bukan kejadian yang baru bermula pada awal Oktober. Laporan penanganan menyebut api telah berlangsung sejak September dan masih membutuhkan penanganan di awal Oktober.
Sementara di Pulau Morotai, kabut asap akibat kebakaran berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai bahkan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di sejumlah jenjang pendidikan sebagai respons terhadap kondisi udara.
Hujan bisa membawa risiko baru
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Samsuddin Abdul Kadir mengatakan, pemerintah daerah menyambut baik informasi mengenai datangnya musim hujan. Namun, masyarakat tidak boleh menganggap perubahan musim sebagai berakhirnya seluruh ancaman bencana.
Kemarau panjang telah menyebabkan kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta persoalan kesehatan yang berkaitan dengan asap.
Menurut Samsuddin, kebakaran yang menghilangkan vegetasi di lereng dan kawasan perbukitan justru dapat meningkatkan risiko bencana ketika hujan datang.
“Vegetasi dan semak yang sebelumnya berfungsi memperlambat aliran air karena terbakar sehingga hilang fungsinya. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air lebih cepat mengalir menuju wilayah yang lebih rendah,” katanya.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di bawah tebing, lereng, maupun kawasan yang vegetasinya terdampak kebakaran perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Vegetasi yang terbakar dan menjadi gundul berpotensi meningkatkan risiko banjir ketika hujan turun,” ujar Samsuddin.
Begitu juga saluran air perlu dibersihkan. Pasalnya, selama kemarau, sebagian saluran air jarang dialiri sehingga sampah dan material lain menumpuk. Ketika hujan datang, saluran yang tersumbat dapat menyebabkan air meluap dan menimbulkan genangan.
Pemerintah daerah mendorong masyarakat membersihkan saluran air, terutama di kawasan perkotaan dan permukiman padat.
Langkah sederhana penting untuk mengurangi risiko genangan ketika hujan mulai turun dengan intensitas lebih tinggi.(aji)
Komentar