Halmahera– Halmahera Wildlife Photography (HWP) sebuah lembaga yang concern dalam dunia fotografi alam liar di Maluku Utara, melatih warga dan anggota Komunitas Pulo Tareba mengenal satwa dan tumbuhan endemik di kawasan wisata Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat.
Kegiatan Selama dua hari Sabtu dan Minggu (29 dan 30 Agustus/2026) itu didukung oleh Burung Indonesia dan Packard Foundation mengangkat tema besarnya “Konservasi Endemik Berbasis Tapak: Aksi Komunitas di Kelurahan Takome, Kota Ternate”. Tujuannya mendorong penguatan peran masyarakat dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Dari pelatihan ini ada 10 peserta terdiri dari anggota Komunitas Pulo Tareba dan warga Takome. Dalam kegiatan ini ada beberapa materi penting diberikan kepada para peserta. Yakni konservasi jenis endemik, tata kelola habitat, teknik monitoring keanekaragaman hayati secara sederhana, hingga pengembangan ekowisata satwa liar. Peningkatan kapasitas masyarakat ini menjadi salah satu tahapan penting membangun konservasi yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dewi Ayu Anindita, Ketua Umum HWP bilang masyarakat yang hidup berdekatan dengan habitat satwa memiliki posisi strategis dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati.
Kedekatan itu membuat masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan sekaligs jadi modal dalam setipa kegiatan konservasi.
“Ini satu tahapan penting memperkuat kapasitas anggota komunitas agar berperan aktif menjaga jenis endemik,dan memahami habitatnya. Selain itu melakukan monitoring sederhana, serta mengembangkan potensi ekowisata berbasis wildlife secara bertanggung jawab,”ujarnya.

Dijelaskan, Kehati di Takome juga memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Keberadaan satwa liar dan habitatnya dapat mendukung kegiatan, i pendidikan lingkungan, penelitian, dokumentasi, hingga pengembangan ekowisata.
Sayangnya potensi ini menghadapi berbagai tekanan. Perburuan, perambahan dan gangguan terhadap habitat, serta aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Hal ini memengaruhi keberadaan satwa liar dan kualitas habitatnya.
Perlindungan keanekaragaman hayati tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan. Diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di sekitar kawasan.
“Upaya perlindungan kehati tidak cukup hanya pengawasan, butuh peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang berada di sekitar kawasan,”jelasnya.
Menurutnya, pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat mengenali perubahan kondisi lingkungan dapat menjadi modal penting mendukung kegiatan konservasi. Keterlibatan masyarakat juga perlu diperkuat dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih terarah.
“Pendekatan konservasi ini menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pelaku utama di tingkat tapak. Tujuanya mereka punya kemampuan untuk terlibat dalam perlindungan habitat, pemantauan satwa, edukasi konservasi, hingga pengembangan kegiatan yang mendukung keberlanjutan lingkungan,” ujar Dewi.
Salah satu kemampuan dasar yang jadi perhatian adalah mengenali jenis endemik serta memahami habitat tempat satwa tersebut hidup. (*)
Komentar