Halmaherapedia– Desa Akediri Kecamatan Jailolo Halmahera Barat Maluku Utara yang kelompok warganya memproduksi sagu lempeng dari kasbi alias singkong, mendapatkan perhatian dari Badan Pangan Nasional Republik Indonesia.
Rabu (20/8/2025) sore, Deputi Keragaman Konsumsi dan Ketahanan Pangan Badan Pangan Nasional Andriko Notosusanto melihat dari dekat proses produksi sagu lempeng yang diproses kelompok ibu-ibu Desa Akediri Kampung Makean. Dalam kunjungan itu, Andriko sempat berdilog dan sempat mencicipi sagu dan ikan fufu (ikan asap,red) yang dihidangkan ibu-ibu setempat.
Kelompok pembuat sagu yang beranggotakan 25 orang ibu itu, dalam sekali pembuatan sagu menghasilkan 350 lempeng. Dalam sekali 25 orang serentak membuat sagu lempeng maka bisa dihasilkan ribuan lempeg sagu yang tidak hanya dijual di Halmahera Barat tetapi sampai Ternate bahkan paling banyak dikirim ke kawasan tambang PT IWIP di Halmahera Tengah.
“Sagu yang kami produksi sebagian besar masuk daerah tambang dan sebagian dipasarkan ke Ternate. Kami tidak menjual langsung tetapi sudah diborong dibo-dibo (pedagang pengumpul,red) yang datang langsung mengambilnya ke dapur warga,” kata Nurbaya Muhammad Ketua kelompok pembuatan sagu Desa Akediri.

Mereka menjual sagu itu per 6 lempeng Rp10 ribu. Artinya jika sekali membuat sagu para ibu ini mengasilkan 350 lempeng sudah bisa mengasilkan uang mencapai Rp580 ribu. Jika dikurangi harga singkong yang dibeli ke petani dua karung seharga Rp150, maka pendapatan bersih ibu-ibu pengolah sagu kasbi bisa mencapai Rp400 ribu.
Saat didatangi pihak Badan Pangan Nasional kemarin mereka, selain menceritakan produksi dan pemasarannya, mereka turut menyampaikan beberapa problem yang dihadapi yakni alat produksi, alat perasan tepung sagu dan rumah pengering sagu lempeng pasca produksi. Sebab saat ini mereka hanya berharap panas matahari. Ketika hujan mereka kesulitan bahkan produksi sagu mereka rusak. “Torang butuh rumah pengering karena jika musim hujan sagu “bakimu” (berjamur,red),” kata Nurbaya saat peninjauan pihak Badan Pangan.

Saat kunjungan itu, Andriko menyarankan para ibu perlu membuat deverifikasi produksi. Misalnya dalam sagu lempeng sudah digabug ikan atau sayur atau lauk yang bisa menambah, gizi dari sagu yang dihasilkan. Selain itu jika dikirim keluar diperbaiki kemasannya. ”Tujuannya karena sagu sudah puya karbohidrat perlu ditambah nilai gizi misalnya protein dari ikan,” kata Andriko.
Ditemui usai menemui para ibu menjelaskan, kegiatan mereka ini berkitan dengan penganekaragaman pangan bersumberdaya lokal. Tujuannya masyarakat tidak hanya mengandalkan beras sebagai sumber pangan. Tetapi mendorong juga makan sagu singkong, sorgum dan berbagai pangan bersumberdaya lokal. “Di sini kita memperkuat masayarakat dengan memberikan alat untuk menambah kapasitas mereka,” kata Andriko. Ada kurang lebih 20 unit alat dari mesin penggilingan singkong dan pengolahannya, didistribusi ke masyarakat untuk mendukung produksi mereka. Tujuannya membantu perkerjaan menjadi lebih mudah. “Kita juga ingin hasil mereka bisa dipasarkan dengan baik. Jadi selain meningktakan penganekaragaman konsumsi pangan juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Terkait soal tuntutan ada tambahan alat produksi menurut Andriko, karena sudah menjadi usaha warga dari dulu maka akan dilihat kebutuhan mereka untuk diinjeksi lagi, bantuan menambah produksi sagu mereka. Dalam hal ini pusat tidak bekerja sendiri tapi bisa juga melibatkan provinsi dan kabupaten. “Jadi ada kolaborasi mungkin kabupaten bisa bantu apa, provinsi begitu juga pusat. Tujuannya agar daerah ini bisa menjadi daerah sentra produksi sagu ubi kayu yang juga dikonsumsi secara massal olah masyarakat setempat,” tambahnya.
Untuk Malut sendiri fokus Badan Pangan Nasional untuk pangan lokal ada di Halbar dan Halsel. Tapi secara nasional ada 40 titik yang fokus soal singkong, sagu, sorgum termasuk pisang. “Saat itu yang perlu diperkuat adalah promosi, edukasi dan kampanye pemanfaatan dan konsumsi pangan lokal,” tutupnya.(aji)













