Sagu Kasbi Akediri Halmahera Barat, Sumber Pangan Lokal dan Ekonomi Warga

Uncategorized1184 Dilihat

Halmaherapedia– Desa Akediri Kecamatan Jailolo  Halmahera Barat Maluku Utara yang kelompok warganya memproduksi sagu lempeng dari kasbi alias singkong, mendapatkan perhatian dari Badan Pangan Nasional Republik Indonesia.

Rabu (20/8/2025) sore,  Deputi Keragaman Konsumsi dan Ketahanan Pangan  Badan  Pangan Nasional Andriko Notosusanto melihat dari dekat proses produksi  sagu lempeng  yang diproses   kelompok ibu-ibu  Desa Akediri Kampung Makean.  Dalam kunjungan itu, Andriko  sempat berdilog  dan sempat mencicipi sagu dan ikan fufu (ikan asap,red) yang dihidangkan  ibu-ibu  setempat.

Kelompok pembuat sagu yang beranggotakan 25 orang ibu itu, dalam sekali pembuatan sagu menghasilkan 350 lempeng.  Dalam sekali  25 orang  serentak membuat   sagu lempeng  maka bisa dihasilkan ribuan lempeg sagu yang tidak hanya dijual di  Halmahera Barat tetapi sampai Ternate bahkan  paling banyak dikirim ke kawasan tambang PT IWIP di Halmahera Tengah.

“Sagu yang kami produksi sebagian besar masuk daerah tambang dan sebagian dipasarkan ke Ternate.  Kami tidak menjual langsung tetapi sudah diborong  dibo-dibo  (pedagang pengumpul,red) yang datang langsung  mengambilnya ke dapur warga,” kata Nurbaya Muhammad Ketua kelompok pembuatan sagu Desa Akediri.

Ibu-ibu yang memprodksi sagu dengan cara dimaskukan ke pencetak lempengan sagu atau dikenal dengan Vorno, foto M Ichi

Mereka menjual sagu itu per 6 lempeng Rp10 ribu. Artinya jika sekali membuat sagu para ibu  ini mengasilkan 350 lempeng  sudah bisa mengasilkan uang mencapai Rp580 ribu. Jika dikurangi harga singkong yang dibeli ke petani dua karung seharga Rp150, maka pendapatan bersih  ibu-ibu pengolah sagu kasbi   bisa mencapai Rp400 ribu.

Saat didatangi pihak Badan Pangan Nasional kemarin mereka, selain menceritakan produksi dan pemasarannya, mereka turut menyampaikan beberapa problem yang dihadapi yakni alat produksi,  alat perasan tepung sagu  dan rumah pengering sagu lempeng pasca produksi. Sebab saat ini mereka hanya berharap panas matahari. Ketika hujan mereka kesulitan bahkan produksi sagu mereka rusak. “Torang butuh rumah pengering karena jika musim hujan sagu “bakimu” (berjamur,red),” kata Nurbaya saat peninjauan  pihak  Badan Pangan.

Hasil sagu lempeng dari singkong yang jadi dan siap dipasarkan ke Jailolo Halmahera-Barat, Halmahera Tengah dan Kota Ternate , foto M Ichi

Saat kunjungan itu, Andriko menyarankan para ibu  perlu membuat deverifikasi produksi. Misalnya dalam sagu lempeng sudah digabug ikan atau sayur atau lauk yang bisa menambah, gizi dari sagu yang  dihasilkan. Selain itu jika dikirim keluar diperbaiki kemasannya. ”Tujuannya karena sagu sudah puya karbohidrat  perlu ditambah    nilai gizi misalnya protein dari ikan,” kata Andriko.

Ditemui usai menemui para ibu  menjelaskan,  kegiatan mereka ini berkitan dengan penganekaragaman pangan bersumberdaya lokal. Tujuannya  masyarakat tidak hanya mengandalkan beras sebagai sumber pangan.  Tetapi mendorong  juga makan sagu singkong, sorgum dan berbagai pangan bersumberdaya lokal. “Di sini  kita memperkuat masayarakat dengan memberikan alat untuk menambah kapasitas mereka,” kata Andriko. Ada kurang lebih 20 unit alat dari mesin penggilingan singkong dan pengolahannya, didistribusi ke masyarakat  untuk mendukung produksi mereka. Tujuannya  membantu perkerjaan  menjadi lebih mudah. “Kita juga ingin hasil mereka  bisa dipasarkan dengan baik. Jadi selain meningktakan penganekaragaman konsumsi pangan juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Vorno sudah dipanaskan dan siap dimasukan tepung singkong yang sudah dihaluskan menggunakan penggilingan dan proses pressing, foto M Ichi

Terkait soal  tuntutan ada tambahan alat produksi menurut Andriko, karena    sudah menjadi usaha warga dari dulu maka akan dilihat kebutuhan mereka untuk diinjeksi lagi, bantuan   menambah produksi sagu mereka. Dalam hal ini pusat tidak bekerja sendiri tapi bisa juga melibatkan provinsi dan kabupaten. “Jadi ada kolaborasi mungkin kabupaten bisa bantu apa, provinsi begitu juga pusat. Tujuannya agar daerah ini bisa menjadi daerah sentra produksi sagu ubi kayu yang juga dikonsumsi secara massal olah masyarakat setempat,” tambahnya.

Untuk Malut sendiri fokus Badan Pangan Nasional untuk pangan lokal ada  di Halbar dan Halsel. Tapi secara nasional ada 40 titik yang fokus soal singkong, sagu, sorgum termasuk  pisang. “Saat   itu yang perlu diperkuat adalah promosi, edukasi dan kampanye   pemanfaatan dan konsumsi pangan lokal,” tutupnya.(aji)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *