Halmaherapedia–Stunting atau gangguan pertumbuhan anak, masih jadi tantangan kesehatan masyarakat di Maluku Utara. Karena itu berbagai upaya dilakukan para pihak guna menurunkan angka stunting tersebut.
Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU misalnya menggelar talk show di Hotel Jati Ternate Rabu (19/8/2026) sore dalam bentuk Edukasi Gizi Meluruskan Persepsi Tentang Susu Kental Manis. Talk show itu mengangkat tema Membangun Generasi Sehat melalui Edukasi Gizi Pencegahan Stunting dan Perlindungan Anak.
Kegiatan yang diikuti pengurus dan anggota Muslimat NU Provinsi dan Kabupaten/Kota itu, menghadirkan tiga pembicara. Mereka adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, Dokter Aspar Abdul Ganis Kepala Seksi Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara dan Sekjen Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Satriya Yudistira.
Satriya dalam pemaparannya menggambarkan kondisi gizi anak Indonesia. Mereka juga telah melakukan edukasi dan pemantauan persoalan gizi anak di 33 provinsi Indonesia.
Dari riset yang dilakukan menemukan empat persoalan utama yang menyebabkan gizi anak menjadi bermasalah. Persoalan itu meliputi kesibukan orang tua, pola konsumsi anak tidak terkontrol, rendahnya pemahaman tentang sumber gizi, serta kesalahan persepsi terhadap produk pangan. Dia juga paparkan hasil survei Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang menunjukkan sekitar 67,6 persen balita masih mengonsumsi atau terpapar susu kental manis (SKM).
“Hampir seluruh wilayah di Indonesia bahkan jika ditarik sejak 2016, bisa dikatakan 90 persennya menganggap kental manis itu adalah susu. Bahkan, produk tersebut diberikan kepada balita sebagai pengganti ASI,” jelasnya.
Satria menyebut harga yang relatif murah menjadi salah satu alasan orang tua memilih SKM. Iklan juga ikut memengaruhi pemahaman masyarakat tentang produk tersebut.
Berdasarkan survei yang ia paparkan, sebagian responden bahkan mendapat informasi keliru tentang SKM dari tenaga kesehatan.
YAICI Soroti Konsumsi Susu Berperisa
Selain SKM, YAICI juga menyoroti kebiasaan orang tua memberikan susu UHT secara berlebihan kepada balita.
Satria mengatakan, timnya menemukan anak yang mengonsumsi susu berperisa hingga empat sampai lima kotak dalam sehari. Pada saat yang sama, anak-anak tersebut masih kekurangan asupan protein seperti ikan dan telur.
Kondisi itu menunjukkan pentingnya edukasi gizi yang tidak hanya berisi larangan. Orang tua juga membutuhkan contoh makanan bergizi yang mudah mereka terapkan di rumah.
“Kesalahan konsumsi SKM sebagai pengganti susu berkontribusi langsung pada tidak optimalnya pemenuhan gizi anak. Ketika anak minum kental manis, mereka akan merasa kenyang dan menolak makan makanan padat yang bergizi,”paparnya.
Karena itu, Satria mendorong keluarga meningkatkan literasi gizi. Ia juga minta tenaga kesehatan dan komunitas memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Kolaborasi Perkuat Edukasi Gizi
Dinkes Maluku Utara, Muslimat NU, YAICI, kader kesehatan, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi dalam memberikan edukasi tentang gizi.
Hal ini dilakukan untuk mendorong perubahan perilaku keluarga. Pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan awal juga menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka stunting di Maluku Utara.
Dinas Kesehatan Maluku Utara dalam talk show ini menyoroti angka stunting di daerah ini. Data survei 2024 mencatat prevalensi stunting Maluku Utara sebesar 23,2 persen.Turun dari 23,7 persen pada 2023. Meski begitu prevalensi stunting Maluku Utara masih berada di atas angka nasional sebesar 19,8 persen.
Kasi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Maluku Utara, Dr. Aspar Abdul Gani, mengatakan Kota Tidore Kepulauan dan Ternate memiliki prevalensi stunting relatif lebih rendah.
Sementara sejumlah daerah lain masih menghadapi persoalan stunting. Salah satunya Kabupaten Halmahera Selatan yang memiliki jumlah penduduk cukup besar.
Menurut Aspar, masyarakat masih perlu mendapat edukasi penggunaan SKM. Sebagian orang tua masih menganggap semua produk susu memiliki kandungan gizi yang sama.
Padahal, SKM mengandung gula dalam jumlah tinggi. Dinkes Maluku Utara tidak merekomendasikan SKM sebagai asupan gizi bayi dan balita.
“Dinkes tidak merekomendasikan pemberian susu kental manis bagi bayi dan balita. Kalau ada indikasi medis sehingga ASI tidak dapat diberikan, maka pemberian susu formula harus melalui rekomendasi dan pengawasan dokter spesialis anak,”ujar Aspar.

Pentingnya Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Aspar mengatakan orang tua perlu memperhatikan pemenuhan gizi sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode itu berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurutnya, orang tua perlu menerapkan empat strategi pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Strategi itu meliputi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta melanjutkan ASI hingga anak berusia dua tahun.
“Bayi perlu mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, orang tua dapat memberikan MP-ASI sesuai usia dan kebutuhan anak,” katanya.
Muslimat NU Dorong Edukasi dari Hati ke Hati
Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi hingga tingkat akar rumput untuk memberikan edukasi gizi.
Menurut Erna, pengurus majelis taklim dan ustazah memiliki kedekatan dengan jemaah. Kondisi itu membantu mereka menyampaikan edukasi secara personal.
“Intinya pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaahnya,”ujar Erna.
Dia menilai persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi. Perilaku orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak juga menjadi tantangan.
Ia menemukan orang tua yang mampu membeli ikan dan telur, tetapi masih memberikan makanan atau minuman tinggi gula kepada anak. Kebiasaan itu muncul karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan gizi anak.
Muslimat NU lantas menggandeng Dinas Kesehatan untuk memberikan pelatihan kepada para kader. Pelatihan itu juga membekali kader dengan pendekatan psikologis saat menghadapi ibu-ibu balita.
Muslimat NU juga menjalankan program Ibu Asuh Stunting. Melalui program itu, kader mendampingi anak yang mengalami stunting dan memantau pemenuhan kebutuhan gizinya.
Selain itu Muslimat juga menjalankan program Muslimat NU Cantik Mencegah Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem). Program itu menyasar keluarga miskin ekstrem melalui pemberian makanan bergizi.(aji)
Komentar