Home Menyapa Nusantara Menua bukan akhir kisah, Sidaya jadi solusi nyata
Menyapa Nusantara

Menua bukan akhir kisah, Sidaya jadi solusi nyata

Bagikan
Sunarto Kepala BKKBN Kalimantan Timur, foto ANTARA
Bagikan

Samarinda, 29/6 (ANTARA)-Di sebuah ruangan yang hangat dan penuh senyum di Sekolah Lansia Santa Matilda, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), sekelompok warga lanjut usia duduk melingkar. Mereka saling bertukar cerita, mendengarkan materi, lalu sesekali tertawa lepas.

Tak ada wajah muram atau kesan menunggu hari-hari berlalu. Sebaliknya, yang tampak adalah semangat untuk terus belajar dan menikmati kehidupan.

Sekolah Lansia Santa Matilda seolah-olah mematahkan anggapan lama bahwa masa tua identik dengan kesepian, kelemahan, dan ketidakberdayaan.

Di Kaltim, gambaran umum yang sering terdengar bahwa “masa tua yang sepi, lemah, dan hanya menunggu waktu” itu memang  perlahan pudar. Lembaran baru sedang ditulis.

Melalui Program Lansia Berdaya (Sidaya), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Kalimantan Timur berupaya menghadirkan masa tua yang tetap sehat, mandiri, produktif, dan bermakna. Menjadi tua bukan lagi dipandang sebagai akhir perjalanan, melainkan fase kehidupan yang tetap memiliki ruang untuk berkarya dan memberi manfaat.

Program ini hadir sebagai respons atas perubahan demografi di Kalimantan Timur. Seiring meningkatnya usia harapan hidup, jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah. Di sejumlah daerah, jumlah mereka bahkan mulai mendekati populasi balita.

Perubahan tersebut membawa tantangan tersendiri. Lansia tidak cukup hanya memiliki usia panjang, tetapi juga harus tetap sehat secara fisik, bugar secara mental, mandiri secara ekonomi, serta terus berperan di tengah keluarga dan masyarakat.

“Program Sidaya dirancang agar kaum lansia tetap sehat, produktif, mandiri, dan berperan aktif dalam lingkungannya. Kami ingin mereka tidak menjadi beban, melainkan tetap menjadi aset berharga yang pengalaman dan kebijaksanaannya bisa terus diwariskan,” ujar Kepala BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto.

Jantung Program Sidaya berada pada Sekolah Lansia yang dibentuk di berbagai Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB).

Meski menyandang nama “sekolah”, tempat ini jauh dari gambaran ruang kelas dengan meja dan papan tulis. Yang tersedia adalah ruang pertemuan yang nyaman, tempat para lansia berkumpul setiap pekan untuk belajar berbagai hal yang dekat dengan kebutuhan mereka.

Materi yang diberikan meliputi pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi bagi usia lanjut, pengelolaan keuangan sederhana, keterampilan hidup, hingga penguatan nilai budaya dan spiritual yang membantu mereka menjalani masa tua dengan lebih tenang.

Pembelajaran tidak berhenti pada teori. Tim kesehatan secara rutin melakukan pemeriksaan sekaligus deteksi dini penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung yang kerap muncul pada usia lanjut.

Para peserta juga memperoleh pelatihan keterampilan usaha ringan dan kerajinan tangan. Mereka didampingi hingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual. Di saat yang sama, peran sosial mereka ikut diperkuat melalui keterlibatan sebagai kader pembina keluarga maupun sosok yang menjadi tempat bertanya dan berbagi pengalaman di lingkungan sekitar.

 

Mengusir sepi, membuka peluang

Lebih dari sekadar tempat belajar, Sekolah Lansia menjadi ruang untuk mengatasi persoalan yang sering dialami warga lanjut usia, yakni kesepian.

Lewat pertemuan rutin, mereka kembali membangun jejaring pertemanan, saling menguatkan, dan berbagi pengalaman menghadapi berbagai tantangan di usia senja. Bagi banyak peserta, sekolah ini telah menjadi rumah kedua, tempat mereka merasa dihargai, didengar, dan tetap dibutuhkan.

Upaya pemberdayaan pun terus dikembangkan. Program Sidaya mulai menjalin kemitraan dengan pelaku usaha lokal serta lembaga pemasaran agar hasil karya kelompok lansia memiliki akses yang lebih luas.

Kerajinan tangan maupun produk olahan pangan yang mereka hasilkan tidak lagi hanya dinikmati sendiri, tetapi mulai dipasarkan melalui gerai usaha warga, dipamerkan dalam berbagai kegiatan daerah, hingga diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Dampaknya memang sederhana, tetapi nyata. Tambahan penghasilan mulai dirasakan, sementara rasa percaya diri para lansia tumbuh kembali karena mereka masih mampu berkarya.

Pelaksanaan program ini berkembang secara bertahap. Kabupaten Kutai Timur menjadi daerah percontohan pertama dengan peluncuran Sekolah Lansia pada Februari 2026 di Kecamatan Sangatta Utara.

Keberhasilan tersebut kemudian menginspirasi daerah lain. Sekolah Lansia mulai berdiri di Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Berau, hingga Kabupaten Paser.

Salah satu contoh yang menonjol hadir di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda. Pada 10 April 2026, Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) meresmikan Sekolah Lansia Santa Matilda yang berlokasi di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Rapak Dalam.

Sekolah ini mengusung konsep SMART, yakni Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat. Angkatan perdananya diikuti 27 peserta berusia 65 hingga 74 tahun.

Keunikan sekolah tersebut terletak pada semangat gotong royong yang menopang seluruh kegiatannya. Para dosen dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur secara sukarela memberikan materi pembelajaran, sementara kebutuhan konsumsi dan fasilitas dipenuhi oleh pihak gereja.

“Kami ingin membuktikan bahwa lansia bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek yang tetap berdaya. Melalui Sekolah Santa Matilda, kami harap tercetak lansia mandiri, sehat, dan bisa menjadi teladan bagi generasi muda,” ujar Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri.

Upaya yang dijalankan pun mulai menunjukkan hasil yang terukur.

Sepanjang 2026, BKKBN Kalimantan Timur menargetkan 11.423 lansia memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Hingga akhir Mei 2026, sebanyak 5.479 orang telah menerima layanan tersebut atau mencapai 47,96 persen dari target tahunan.

Berdasarkan persentase capaian, Kabupaten Berau mencatat hasil tertinggi, yakni 76,24 persen dengan 507 lansia telah menjalani pemeriksaan dari target 665 orang.

Sementara itu, Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi daerah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 1.649 orang dari target 2.666 orang.

Posisi berikutnya ditempati Penajam Paser Utara dengan capaian 64,3 persen atau 272 orang dari target 423 orang, disusul Kabupaten Mahakam Ulu yang telah menjangkau 62,34 persen sasaran.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa Program Sidaya diterima dengan baik oleh masyarakat, meski tantangan menjangkau wilayah pedalaman masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Keberhasilan ini juga lahir dari kolaborasi lintas sektor. Program dijalankan melalui sinergi antara BKKBN, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tim Penggerak PKK, Baznas, serta pemerintah kabupaten dan kota.

Jaringan Kampung KB dengan para kadernya menjadi ujung tombak yang memungkinkan layanan menjangkau hingga desa dan kelurahan.

Menuju masa tua yang bermartabat

Pemeriksaan kesehatan hanyalah salah satu bagian dari tujuan besar Program Sidaya.

Pada akhir 2026, program ini menargetkan mampu menjangkau lebih dari 95.000 lansia di seluruh Kalimantan Timur. Selain itu, Sidaya juga diharapkan mampu menekan jumlah lansia terlantar sekaligus meningkatkan proporsi lansia yang aktif dan mandiri hingga mencapai 75 persen dari total sasaran.

“Kami ingin setiap warga yang memasuki usia senja merasa tenang, bahagia, dan berguna. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir bahwa masa tua akan menjadi beban bagi keluarga. Dengan tetap aktif secara fisik, pikiran, dan sosial, mereka justru memperpanjang usia produktif dan kualitas hidupnya,” kata Sunarto.

Di tengah pesatnya pembangunan daerah dan persiapan menuju Ibu Kota Nusantara, perhatian terhadap kelompok lanjut usia menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari cara sebuah daerah memperlakukan setiap warganya pada setiap tahap kehidupan.

Di ruang-ruang Sekolah Lansia, pada setiap kerajinan tangan yang dihasilkan, dan dalam nasihat yang diwariskan kepada anak cucu, tersimpan pesan yang sama: masa tua bukanlah titik akhir, tapi adalah babak baru yang dapat dijalani dengan sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat.

Program Sedaya bukan sekadar menghadirkan layanan bagi warga lanjut usia, melainkan mengembalikan keyakinan bahwa masa tua tetap layak dirayakan. Sebab, ketika seorang lansia masih bisa belajar, berkarya, berbagi pengalaman, dan tersenyum bersama orang-orang di sekitarnya, usia bukan lagi penanda berakhirnya perjalanan, melainkan awal dari babak kehidupan yang tetap penuh makna.

Oleh M.Ghofar
Editor : Dadan Ramdani

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Menyapa Nusantara

Pemulihan aset negara tembus Rp1,8 triliun

  Badan Pemulihan Asset  Kejaksaan Agung (BPA) Kejagung, memulihkan Rp1,8 triliun  asset...

Menyapa Nusantara

Wamentan:Indonesia komitmen keluar dari ketergantungan impor pangan

Jakarta, 29/6 (ANTARA) -  Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan Indonesia berkomitmen...

HeadlineMenyapa Nusantara

Menteri PU sebut progres pembangunan sekolah rakyat capai 78 persen

Jakarta, 15/6 (ANTARA) - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan secara...

HeadlineMenyapa Nusantara

Diplomasi kuliner sajian Nusantara di Negeri Azteca

Mexico City, 15/6 (ANTARA)- Mengangkat nama Indonesia di kancah dunia tidak melulu...