Halmaherapedia– Fala Sophie Lingkar Studi sebuah kelompok studi mahasiswa di Ternate menggelar seri diskusi sekaligus launching lembaga ini dengan tema “Merefleksikan Filsafat Keseharian dan Melestarikan Nilai Pengetahuan Lokal. Kegiatan ini dilaksanakan di Cafe Sampalo Fitu, Ternate Selatan pada Sabtu (6/6/2026)lalu.
Fala Sophie Lingkar Studi hadir menjadi ruang aman bagi Generasi Z dan Generasi Alpha dalam mengembangkan nalar kritis, kemampuan berdialog, dan tradisi literasi tanpa kehilangan akar budaya yang dimiliki.
Fala Sophie juga berkomitmen meliterasikan kembali pengetahuan lokal dan indigenous knowledge sebagai sumber kebijaksanaan yang relevan untuk menjawab tantangan masa kini.
Pembina dan pendiri Fala Sophie Lingkar Studi, Dr. Syahyunan Pora, S.Fil., M.Phil., dalam sambutan peluncurannya mengungkapkan, generasi muda Maluku Utara (Malut) saat ini masih menjadikan filsafat barat menjadi acuan pengetahuan. Mereka belum mengenal nilai-nilai filsafat lokal yang itu merupakan bagian dari kehidupan generasi muda saat ini.
“Selama ini filsafat sering dipahami hanya melalui tradisi Yunani dan Eropa. Padahal dunia Islam, Timur Tengah, dan Nusantara juga memiliki tradisi intelektual yang kaya,” jelasnya.
Pria yang sering disapa Yunan ini juga menjelaskan bahwa, Fala Sophie Lingkar Studi ini tidak hanya sebatas pada anak muda di Kota Ternate, melelainkan terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi pada pelestarian nilai budaya lokal.
“Fala Sophie Lingkar Studi terbuka bagi siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu, semangat belajar, dan kepedulian terhadap masa depan pengetahuan lokal serta perkembangan pemikiran generasi muda,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut Antropolog Universitas Khairun sekaligus Ketua Yayasan The Tebings, Safrudin Abdulrahman, S.Sos., M.A. dalam sesi diskusi menyampaikan bahwa, nilai-nilai budaya lokal di Malut banyak yang belum ketahui, sehingga pentingnya anak muda khususnya generasi muda Malut untuk menaruh perhatian pada budaya lokal dan melakukan dokumentasi budaya.
“Nilai lokal Maluku Utara yang harus didokumentasikan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan dalam kesempatan tersebut bahwa pentingya dokumentasi budaya karna manusia adalah mahluk budaya karena merupakan indetias suatu kelompok.
“Tidak ada manusia tanpa budaya,” pungkasnya. (mg1)
Komentar