Home Headline 36 NGO Konsolidasikan Gerakan Warga Lewat ICJS
HeadlineNasional

36 NGO Konsolidasikan Gerakan Warga Lewat ICJS

Bagikan
Bagikan

Halamaherapedia— Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) menggelar   forum temu rakyat melalui  Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) pada  6 hingga 28 Agustus mendatang. ICSJ ini  akan menjadi tonggak penting bagi perjuangan keadilan iklim di Indonesia.  ARUKI  yang terdiri dari  36 Non Goverment Organisation (NGO) atau lembaga masyarakat sipil di Indonesia itu menegaskan, forum temu rakyat ini akan menjadi tonggak penting bagi perjuangan keadilan iklim di Indonesia.

Forum ini akan dibuka dengan pernyataan dari delapan subjek rentan yang akan menyampaikan langsung  dampak krisis iklim yang dialami. ARUKI menekankan bahwa krisis iklim bukanlah persoalan teknis, melainkan persoalan politik.

“Krisis iklim hari ini bukan sekadar soal cuaca atau banjir. Persoalan ini adalah soal politik, sejauh mana negara hadir menjalankan tanggung jawab konstitusionalnya untuk memastikan bumi dan rakyatnya keluar dari masalah,  ujar Torry Kuswardono, Yayasan PIKUL dalam konferensi pers yang digelar di Artotel Gelora Senayan Jakarta pada (25/8/2025).

ICJS lahir dari keresahan rakyat atas kegagalan negara menangani krisis iklim. RUU Keadilan Iklim yang diinisiasi masyarakat sipil akan menjadi agenda utama dalam forum ini. ARUKI mengundang DPR untuk berdiskusi, karena sebagai ‘wakil rakyat’ mereka berkewajiban mengakomodasi aspirasi publik dalam setiap pembahasan kebijakan.

“RUU Keadilan Iklim adalah kebutuhan mendesak. Tanpa payung hukum yang jelas, masyarakat dan sumber daya alam Indonesia akan terus menjadi korban. RUU ini hadir

sebagai satu-satunya harapan untuk melindungi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat,” jelas Raynaldo Sembiring, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).

ICJS katanya menjadi ruang penting bagi suara perempuan yang selama ini terpinggirkan dalam kebijakan pembangunan. Krisis iklim telah memperberat beban mereka, dari hilangnya akses air bersih hingga meningkatnya risiko kekerasan. Karena itu, kebijakan ke depan harus memastikan perlindungan dan partisipasi penuh perempuan,” ujar Armayanti Susanti, Solidaritas Perempuan.

Sementara  Erwin Suryana Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyampaikan bahwa krisis iklim membuat nelayan kehilangan hasil tangkap dan terancam keselamatannya di laut. Lebih berat lagi, proyek-proyek pembangunan di pesisir justru menggusur ruang hidup mereka. “Jika suara nelayan terus diabaikan, maka  akan selalu jadi korban, baik di laut maupun di darat, ”katanya.

Mengapa ICJS Mendesak?

Dalam catatan ARUKI, lebih dari 28.000 bencana iklim terjadi dalam satu dekade terakhir, berdampak pada lebih dari 38 juta jiwa, dengan kerugian ekonomi mencapai Rp544 triliun hanya dalam periode 2020-2024. Fakta ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan wacana global, melainkan kenyataan sehari-hari yang dihadapi rakyat.

ICJS sendiri  di Jakarta, menghadirkan 500-1000 peserta dari masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, buruh, miskin kota, orang muda, hingga penyandang disabilitas. Dengan tema “Gerakan Rakyat, Solusi Rakyat: Mengukuhkan Keadilan Iklim dari Lokal ke Global”, ICJS hadir sebagai ruang politik rakyat untuk merumuskan tuntutan bersama, sekaligus menegaskan posisi masyarakat sipil menuju Konferensi Iklim COP30 di Brasil. Selain pleno dan lokakarya tematik, ICJS juga akan menampilkan panggung ekspresi rakyat dan pawai, menegaskan bahwa perjuangan keadilan iklim tidak hanya berlangsung di meja diskusi, tetapi juga di jalanan dan ruang publik.

ARUKI mengundang jurnalis untuk meliput ICJS, menyuarakan aspirasi kelompok rentan serta memeprluas perhatian publik terhadap urgensi RUU Keadilan Iklim. liputan media sangat penting agar suara dari akar rumput tidak berhenti di forum, melainkan menggema hingga ruang-ruang pengambilan keputusan.

“Media adalah jembatan agar suara rakyat di akar rumput terdengar luas. Jika pemerintah menutup telinga, biarlah dunia tahu bahwa rakyat Indonesia menolak eksploitasi, menuntut tanggung jawab, dan menegaskan bahwa alam, lingkungan, dan sumber daya kami bukan komoditas, ” tegas Risma Umar, Aksi! For gender and ecological justice.

Sekadar informasi Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) adalah blok politik nasional yang melibatkan lebih dari 36 organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Didirikan pada November 2023, ARUKI tumbuh dari keprihatinan bersama terhadap ancaman krisis iklim dan ketidakadilan yang ditimbulkannya, terutama bagi kelompok-kelompok yang paling rentan.

ARUKI hadir untuk mendorong perubahan sistemik menuju terwujudnya keadilan iklim di Indonesia. Dalam perjuangannya, ARUKI menempatkan keadilan sosial, pemenuhan hak-hak dasar, dan dan penguatan solidaritas antar jaringan sebagai landasan utama untuk mencapai keadilan iklim yang berpihak pada masyarakat.(aji/adil)

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
HeadlineTaliabu

Kondisi Asrama Mahasiswa Taliabu Memprihatinkan, Desak Pemkab Perbaiki 

Halmaherapedia— Asrama mahasiswa Kabupaten Pulau Taliabu di Kelurahan Sasa Kecamatan Kota Ternate...

Halmahera TimurHeadline

Ahli IPB:Tambang Nikel di Haltim Ancam Laut, Kesehatan  dan Ekonomi Masyarakat

Halmaherapedia-- Pertambangan nikel  di wilayah pesisir, terutama  di  Teluk Buli Halmahera Timur,...

DaerahHeadlineNasional

KPK: Ada Tiga Titik Rawan Korupsi di Maluku Utara

Halmaherapedia-- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti tiga area yang   paling rentan  praktik...

HeadlineKota Tidore

Alumni  Jogja Diajak Sumbang Ide dan Gagasan Bangun Tidore

Halmaherapedia-- Pelantikan Ikatan Alumni Jogjakarta dan Milad ke 30 Tahun Perkumpulan Keluarga,...