Home Menyapa Nusantara Benang dan rajutan kemandirian warga binaan 
Menyapa Nusantara

Benang dan rajutan kemandirian warga binaan 

Bagikan
Bagikan

Kediri, 30/9 (ANTARA) -Seutas benang yang semula hanya berupa gulungan perlahan berubah menjadi karya di tangan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kediri, Jawa Timur.

Jari-jari mereka bergerak mengikuti pola. Benang dikaitkan satu demi satu, kemudian dirajut dengan ketelitian untuk membentuk tas, dompet, boneka, dan berbagai kerajinan lainnya.

Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana, namun bagi warga binaan yang menjalaninya, merajut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membangun keterampilan yang diharapkan dapat berguna ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Sebanyak 14 warga binaan Lapas Kelas II A Kediri, terdiri dari tujuh warga binaan perempuan dan tujuh laki-laki, mengikuti pelatihan merajut yang digelar bekerja sama dengan satu perusahaan, Sabtu (26/9).

Kegiatan itu merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang diberikan Lapas Kediri melalui keterampilan produktif. Peserta tidak hanya diajari teknik dasar merajut, tetapi juga diperkenalkan pada proses produksi yang memenuhi standar, sehingga hasil pekerjaan dapat memiliki nilai ekonomi.

Pelatihan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap pekan. Pendampingan diberikan secara langsung oleh pemilik usaha kerajinan rajut, dengan pemateri yang didatangkan dari Solo.

Pendampingan dilakukan secara bertahap. Peserta diarahkan memahami teknik merajut, sekaligus memperhatikan detail yang menentukan kualitas satu produk.

Ketepatan pola, kerapian hasil rajutan, konsistensi ukuran, hingga kualitas akhir menjadi bagian yang diperhatikan dalam setiap proses. Dengan demikian, warga binaan tidak sekadar menghasilkan kerajinan untuk mengisi waktu selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga belajar mengenal standar kerja yang berlaku dalam proses produksi.

Proses tersebut mulai menghasilkan karya yang masuk ke dalam rantai produksi perusahaan. Sepanjang September 2026, Lapas Kediri telah mengirimkan puluhan hasil rajutan warga binaan ke Solo untuk diproses lebih lanjut oleh rekanan lapas.

Produk yang dikirim antara lain berupa tas, dompet, boneka, dan berbagai jenis kerajinan lainnya.

Pengiriman hasil produksi itu menjadi bagian penting dari proses pembinaan karena warga binaan dapat melihat bahwa keterampilan yang mereka pelajari dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Lebih jauh, hasil karya yang memenuhi standar produksi juga membuka peluang bagi warga binaan untuk memperoleh premi atau upah. Pemberian tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap keterampilan dan hasil kerja yang telah mereka lakukan.

Bagi Lapas Kediri, pembinaan kemandirian tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan. Keterampilan yang diperoleh perlu diarahkan agar dapat menjadi kemampuan produktif yang berpotensi dimanfaatkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya.

Satu warga binaan, berinisial AS mengaku sangat senang dan berterima kasih atas adanya program merajut di Lapas Kelas II A Kediri. Selain dapat menghilangkan rasa jenuh, AS juga mendapatkan keterampilan baru sebagai bekal saat nanti sudah pulang ke rumah.

Rekanan yang mendukung program lapas tersebut mengingatkan standar produksi sebagai salah satu hal yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran. Warga binaan yang mengikuti pelatihan perlu memahami bahwa sebuah produk tidak hanya dinilai dari bentuk akhirnya, tetapi juga dari proses pembuatannya.

Setiap hasil karya harus memenuhi standar produksi, mulai dari teknik dasar, presisi pola, kerapian, hingga kualitas akhir.

 

Dengan demikian, warga binaan yang telah menguasai keterampilan dan mampu memenuhi standar produksi memiliki peluang untuk terus dilibatkan dalam proses produksi.

Bagi warga binaan yang telah mahir dan memenuhi standar, mereka mendapatkan kesempatan untuk terus dilibatkan dalam proses produksi perusahaan yang menjadi penampung dari produk itu.

Kerja sama tersebut sekaligus mempertemukan kebutuhan pembinaan di dalam lapas dengan kebutuhan produksi di dunia usaha. Warga binaan memperoleh kesempatan belajar dan menghasilkan karya, sedangkan hasil pekerjaan mereka diarahkan mengikuti standar yang berlaku dalam kegiatan produksi.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II A Kediri Gatot Tri Rahardjo mengatakan pembinaan kemandirian harus memberikan keterampilan yang benar-benar dapat dimanfaatkan warga binaan.

Pemimpin lapas berharap setiap pelatihan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi menjadi bekal produktif yang dapat dikembangkan setelah warga binaan kembali ke masyarakat.

Karena itu, Lapas Kediri mengapresiasi keterlibatan perusahaan yang tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memperkenalkan standar produksi kepada peserta.

Pembinaan seperti pelatihan merajut juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka miliki. Dari keterampilan dasar, mereka kemudian belajar mengenai ketelitian, kesabaran, konsistensi, dan tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.

Setiap pola yang keliru harus diperbaiki. Setiap rajutan yang tidak rapi perlu dikerjakan kembali. Proses tersebut membuat keterampilan merajut bukan sekadar persoalan menghasilkan sebuah barang, melainkan juga latihan untuk mengikuti tahapan kerja secara disiplin.

Di sisi lain, adanya standar produksi membuat warga binaan memiliki tolok ukur yang lebih jelas terhadap hasil pekerjaan mereka. Produk yang dibuat tidak hanya dinilai selesai atau tidak selesai, tetapi juga dilihat dari kualitasnya.

Bagi peserta yang telah mampu memenuhi standar, kesempatan memperoleh premi atau upah menjadi bagian lain dari proses tersebut. Hasil kerja mendapatkan penghargaan, sekaligus menjadi pengalaman mengenai hubungan antara keterampilan, kualitas, dan nilai ekonomi.

Menurut dia, kolaborasi Lapas Kediri dan perusahaan juga menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian dapat dilakukan melalui keterlibatan pihak di luar lingkungan pemasyarakatan.

Dunia usaha memberikan pengetahuan mengenai kebutuhan produksi, sementara warga binaan mendapatkan ruang untuk mengembangkan keterampilan.

Bagi warga binaan, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal ketika harus beradaptasi kembali dengan kehidupan di luar lapas. Keterampilan yang telah dipelajari setidaknya memberikan pilihan kemampuan produktif yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Bagi lapas, pelatihan tidak serta-merta menjamin keberhasilan seseorang setelah kembali ke masyarakat. Keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan dapat menjadi salah satu modal untuk membuka peluang kegiatan produktif.

Dari benang yang dirajut menjadi sebuah produk, ada proses panjang yang harus dilalui. Ada pola yang harus dipahami, ukuran yang harus dijaga, serta kerapian yang harus diperhatikan. Semua itu membutuhkan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.

Lapas Kediri berupaya menjadikan proses tersebut sebagai bagian dari pembinaan warga binaan agar mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan yang dapat digunakan setelah masa pembinaan berakhir.

Seutas benang akhirnya memiliki arti lebih dari sekadar bahan kerajinan. Di tangan warga binaan, benang menjadi media untuk belajar bekerja, menghasilkan karya, dan mengenal nilai dari sebuah keterampilan.

Dari sana, harapan untuk hidup lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat perlahan dirajut, satu demi satu, sebagaimana benang yang disusun hingga menjadi sebuah karya.

Oleh Asmaul Chusna
Editor: Masuki M Astro

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Menyapa Nusantara

5,67 Juta Hektare Hutan untuk Pangan-Energi-Lingkungan

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan jutaan hektare kawasan hutan produksi dan lindung yang...

Menyapa Nusantara

Kemendikdasmen perkuat pendidikan Pancasila lewat deep learning

 Jakarta, 30/9 (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat...

Menyapa NusantaraSerba-serbi

Kemenhub percepat pemulihan bandara terdampak gempa NTT

Jakarta, 01/9 (ANTARA) - Kementerian Perhubungan mempercepat pemulihan bandara terdampak gempa di...

Menyapa Nusantara

Lindungi diri dari ISPA

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)...