Halmaherpedia–Musim kemarau sudah hampir memasuki bulan kelima. Di berbagai tempat di Maluku Utara, warga tidak hanya terancam krisis air untuk kebutuhan sehari-hari. Suara lirih juga datang dari petani cengkih dan pala. Tanaman mereka terancam mati massal karena kekeringan maupun terbakar. Di sepanjang jalan Halmahera dari Sofifi ke daerah Oba, Oba Tengah hingga Oba Selatan misalnya, disaksikan pohon pala mati massal. Pohon “emas” milik petani terlihat mati mengering tak tertolong. Kondisi ini terjadi di hampir semua tempat. Bahkan di pulau-pulau kecil lainnya di Maluku Utara juga alami hal serupa.
Di Pulau Tidore, di sepanjang jalan menuju Kalaodi dan Gurabunga, pala dan cengkih juga mati kekeringan. Padahal pohon-pohon pala dan cengkih itu selama ini jadi sumber pendapatan yang dipanen pemiliknya. Usia tanaman tahunan yang mati itu bervariasi antara 25 hingga 40 tahun.
Tokoh masyarakat Kelurahan Kalaodi Samsudin Ali dikonfirmasi Senin (14/9/2026) pekan lalu, bercerita untuk penyelamatan tanaman pala maupun cengkih yang mati massal itu, masyarakat sudah tidak bisa lagi lakukan. Mereka tidak punya cukup air untuk bisa selamatkan tanaman yang mati itu. Menurutnya, jangankan menggunakan air untuk penyelamatan tanaman,untuk kebutuhan makan minum dan MCK juga sudah mulai kesulitan.
“Ada cengkih dan pala puluhan hektar terancam mati. Yang petani pikirkan saat ini bagaimana bisa dapat air agar bisa makan dan minum maupun MCK dulu. Untuk tanaman belum ada tindakan,” kata Samsudin.
Hal senada diakui Majid warga Patani. Saat ini di seantero Halmahera Tengah juga sangat kuatir dengan tanaman pala maupun cengkih mereka karena sudah banyak mati akibat kekeringan.
“Jika kemarau ini makin lama, ancaman mati kering tanaman pala dn cengkih tidak bisa tertolong,”ujar Majid warga Patani Utara Senin (21/9/2026).
Ade Amrin warga Banemo Patani bercerita,Pekan lalu dia pergi ke Gebe karena ada urusan keluarga. Di sana dia merasakan dan menyaksikan masyarakat Pulau Gebe alami hal yang sama. Di ibu kota kecamatan saat ini warga sangat kesulitan air. Mereka terpaksa membeli air yang dijual salah satu perusahaan tambang yang beroperasi di pulau ini. Meski dia mengaku tak tahu nama perusahaan itu namun katanya, air itu diambil dari salah satu danau di pulau itu.
“Air PDAM di Gebe juga sudah tidak lagi punya debit air yang cukup. Perusahaan lantas ambil sumber air di bagian selatan pulau Gebe. Di situ ada danau dan airnya dijual kepada warga,”kata Ade,Selasa (22/9/2026).

Dalam kondisi seperti itu, tanaman juga banyak yang mati terutama pala dan cengkih.Meski tanaman mati warga tidak bisa berbuat apa-apa. Kondisi ini katanya, akan mengancam kehidupan petani yang selama ini menggantungkan pendapatannya dari cengkih dan pala. Apalagi tanaman yang mati itu, berusia sudah 20 sampai 30 tahun.
“Satu pohon pala berusia 30 sampai 40 tahun itu sudah bisa sampai puluhan kilo satu kali musim panen. Jika tanamannya mati seperti sekarang berarti ancaman kehilangan pendapatan cukup besar,” tambahnya.
Menurutnya, meski saat ini belum ada yang mengitung luasan dan jumlah pohon yang mati kekeringan, tapi sudah pasti ke depan para petani kehilangan pendapatan.
“Berapa puluh tahun lagi bisa dapatkan satu pohon pala atau cengkih puluhan kilogram,”ujarnya.
Sebelumnya saat kemarau 2015, di Ternate juga ada ribuan pohon tanaman cengkih dan pala milik warga Ternate mati karena terbakar.
Data resmi Dinas Pertanian Ternate kala itu, ada 4139 tanaman. Keseluruhan tanaman yang terdampak rinciannya yakni tanaman rempah dan perkebunan yakni Pala: 2.275 pohon Cengkeh: 788 pohon Kelapa: 323 pohon Kayu manis: 259 pohon Durian: 192 pohon Kenari: 26 pohon dan Bambu: 8 rumpun.
Ancaman kekeringan dan kematian tanaman mengkhawatirkan petani. Di sisi lain pemerintah provinsi Maluku Utara bersama perwakilan FAO Regional Asia Pasifik, FAO Indonesia dan Timor Leste, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI diwakili Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara bersama para pimpinan OPD Provinsi Maluku Utara, menggelar Pertemuan Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI di Halmahera Room Bela Hotel Ternate, Senin (21/9/2026).
Technical Working Group (TWG) 2 Program CDC-SUI adalah forum kelompok kerja teknis kedua untuk program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia atau Konservasi Keragaman Tanaman untuk Pemanfaatan Berkelanjutan di Indonesia yang fokus pada pala dan cengkih.
Program ini sendiri merupakan kerja sama antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF)
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, H. Samsuddin Abdul Kadir, mewakili pemerintah Maluku Utara dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI dan FAO yang telah memberikan perhatian serta dukungan terhadap upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pangan dan pertanian di Maluku Utara.
Dia bilang Maluku Utara punya posisi istimewa dalam sejarah dunia. Bangsa-bangsa Eropa datang ke wilayah ini karena daya tarik cengkeh dan pala yang menjadi primadona perdagangan dunia.
“Ketika bicara konservasi pala dan cengkeh di Maluku Utara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan alam, warisan budaya, sejarah perdagangan dunia, dan identitas Maluku Utara,” katanya.
Ia mengaitkan pentingnya konservasi dengan tantangan global saat ini, seperti program Carbon Trading di Norwegia yang memberikan penghargaan kepada negara-negara yang menjaga hutannya. Hal ini menjadi peluang bagi Maluku Utara sebagai provinsi dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Senada Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku Utara, Warsita, yang mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI menjelaskan bahwa sumber daya genetik tanaman merupakan aset strategis bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Program ini hadir sebagai kerja sama Kementerian Pertanian dan FAO yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF).
Program ini ada di tiga provinsi dan delapan kabupaten, meliputi Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, dan Maluku Utara, dengan fokus lima komoditas utama, yakni padi, talas, uwi, pala, dan cengkeh.
“Maluku Utara punya peran penting. Memiliki sejarah panjang dalam perdagangan rempah, khususnya pala dan cengkeh, serta menjadi pusat penting keanekaragaman genetik atau center of origin bagi kedua komoditas tersebut,” ujarnya.
Hasil identifikasi di beberapa kawasan, seperti Gunung Sibela Halmahera Selatan, menunjukkan masih banyak kerabat liar atau wild relative dari pala dan cengkeh. Kekayaan ini adalah bank genetik abadi yang perlu dikonservasi.
Di Tidore Kepulauan, lebih dari 85 persen masyarakat punya tanaman pala dan/atau cengkeh dengan luas budidaya pala mencapai 5.868,8 hektare dan cengkeh 891,4 hektare. Namun, sebagian besar tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun dan masih dijual dalam bentuk biji pala serta cengkeh kering sehingga nilai tambah di tingkat petani masih sangat terbatas.
Sementara itu, di Halmahera Selatan, lokasi penting seperti Bacan, Makian, Kayoa, Mandioli, Gunung Sibela, Desa Gandasuli, dan Desa Marabose menjadi fokus kegiatan konservasi, karakterisasi, penguatan Custodian Farmer, hingga akses diversifikasi pasar.
“Kami targetkan lahirnya lebih dari 50 Custodian Farmers atau petani pelestari di Maluku Utara yang akan mendapatkan pengakuan formal serta paket insentif nyata, seperti alat pertanian, pupuk organik, bibit unggul, hingga solar dryer. Insentif ini disusun berdasarkan Farm Conservation Plan yang diformulasikan oleh petani itu sendiri,” jelasnya.
Melalui intervensi mutu pascapanen, pendapatan petani diproyeksikan dapat meningkat sekitar 15 hingga 25 persen dengan target penerima manfaat langsung sekitar 5.110 orang dan 50 persen di antaranya adalah perempuan.
Forum Technical Working Group ini menurutnya sangat krusial untuk merumuskan harmonisasi kebijakan lintas sektoral antara kawasan hutan, kebun rakyat, dan tanah adat sebagai wujud nyata sinergi pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dalam menjaga warisan sumber daya genetik bersama.(*)
Penulis: Rahmatuhaj Jurnalis
Komentar