Temui Hal Mistis hingga Lumba- lumba sebagai Penunjuk Pertolongan
Fajar mulai menyingsing di ufuk Timur pada Selasa (7/07 2026). Waktu menujukan pukul 04.30 WIT, Esau Sidemo (57 tahun) bersiap untuk melaut. Dia mencari ikan untuk kebutuhan makan keluarga. Jarak dari kampung ke lokasi mancing hanya kurang lebih 2 mil laut dari Kelurahan Bido Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara. Dia kemudian menyiapkan berbagai peralatan mancing, mesin dan perahu 2 GT bersama bahan bakar. Seanjutnya menuju tempat biasa memancing.
Esau juga seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Camat Pulau Batang Dua. Karena itu berniat memancing setengah jam satau 1 jam kemudian pulang dan masuk kantor. Karena itu juga, tidak ada bekal dan alat penting dia bawa. Hanya air minum kurang 1 liter. Tidak ada makanan atau cemilan.
Saat dalam perjalanan dan belum sempat memancing, mesin berkapasitas 15 PK yang digunakan mati total. Dia berusaha memperbaiki dan mencari tahu sumber kerusakannya. Namun mesin tak bisa hidup.Bahkan starter mesin ikut rusak
“Saya tidak ada persiapan, karena sudah biasa memancing sebentar lalu pulang. Bekal atau alat cadangan mesin juga tidak ada,” katanya memulai cerita Senin (31/8/2026).
Saat mati mesin juga dia tidak bisa mengontak keluarga dan famili karena tidak ada jaringan telpon. Dia terus berusaha memperbaiki mesinnya. Tak disadari perahunya sudah terbawa arus cukup jauh ke laut bebas.

Ada Kapal Lewat Tapi Tak Beri Bantuan
“Saat sudah terang posisi perahu sudah sangat jauh dari Pulau Batang Dua. Memang ada kapal sabuk lewat tapi saya panggil panggil mereka jalan terus,” katanya. Siangnya ada kapal fery lewat menuju Batang Dua tetapi mereka juga tidak sempat memberikan bantuan.
Ketik hari makin sore saat perahu makin menjauh dia mulai pasrah. Apalagi arus laut terus bergerak membawa keluar jauh perahunya dari daratan.
Ayah dua anak dan empat cucu ini, nyaris hilang harapan ketika badai datang. Angin dan gelombang menghantam perahunya semakin menjauh dari daratan. Malam pun tiba dan dia mulai menjalani hari—hari di atas perahu fiber berkapasitas 2 GT tersebut. Saat itulah Esau mulai menyadari dirinya berada dalam situasi berbahaya.
“Dari situ saya berpikir, mungkin Tuhan mengizinkan saya meninggal atas perahu ini,” katanya.
Ini pengalaman tak terlupakan oleh Esau. Niatnya pergi memancing seperti biasa berubah menjadi perjuangan hidup dan mati. Bertarung nyawa terombang-ambing seorang diri selama 26 hari tanpa makanan dan air di atas samudera luas.
Bertahan dengan Ikan yang Melompat ke Perahu
Hari-hari pertama menjadi ujian berat bagi Esau. Dalam kondisi lapar dan tanpa kepastian kapan akan mendapat pertolongan, ia berusaha mencari makanan dari laut.
Namun, kondisi fisiknya semakin melemah. Ia juga tidak selalu mampu memancing karena pergerakan perahu yang terus terbawa arus dan gelombang.
Di tengah situasi tersebut, sebuah kejadian yang tidak diduganya terjadi.
Seekor ikan tiba-tiba melompat ke dalam perahunya.
Ikan pertama yang didapatnya oleh masyarakat setempat disebut ikan layar atau marlin. Ukurannya tidak besar, hanya sekitar satu jengkal.Ikan tersebut menjadi makanan yang sangat berarti bagi Esau.
“Kalau saya bilang itu mu’zizat Tuhan,” ujarnya.
Saat ikan habis dia coba melepas alat pancing dan ada satu ikan didapat, orang di kampung biasa menyebutnya ikan sabel— ikan tipis. Ikan-ikan tersebut dimanfaatkan sehemat mungkin. Dagingnya dimakan sedikit demi sedikit agar dapat bertahan lebih lama. Sisa daging dan tulang ikan yang masih dapat dimanfaatkan bahkan dijemur untuk dibuat seperti ikan kering.
“Pokoknya harus hemat karena saya tidak tahu kapan akan mendapat pertolongan,” katanya.
Namun, persediaan tersebut akhirnya habis.
Pada minggu pertama badan sudah mulai kurus karena tidak ada asupan makanan dan hanya minum air laut. Meski begitu tetap punya harapan.
“Saya yakin Tuhan mengirimkan makanan untuk saya makan agar tetap bertahan hidup,” katanya.
Di saat ikan sudah habis, dia menemukan dua buah kelapa yang hanyut, lalu dibelah dan diambil dagingnya.
“Ada satu tak ada isinya, satunya lagi daging kelapa sudah busuk. Tetapi tetap dibersihkan dan dijemur agar tetap bisa dimakan,” kisahnya.
Sementara itu, kondisi tubuh Esau semakin lemah. Memasuki minggu kedua, makanan semakin sulit diperoleh. Ikan pun sudah tidak ada. Ia mulai lebih sering mengandalkan air hujan.

Air Hujan Menjadi Penyelamat
Selama terombang- ambing di laut, Esau beberapa kali mendapatkan hujan. Hujan yang turun tidak selalu berlangsung lama. Namun, setiap kali hujan turun, ia berusaha menampung air sebanyak mungkin. Air hujan yang didapatnya terkadang bercampur dengan air laut sehingga terasa asin. Esau kemudian berusaha menyaringnya menggunakan kain atau bahan yang tersedia di perahu. Air tersebut tetap diminumnya karena tidak ada pilihan lain.
Ia mengaku kondisi tersebut membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun, secara mengejutkan, ia tidak mengalami penyakit serius.
“Saya bersyukur setiap bangun pagi badan terasa kuat tidak pernah sakit. Tidak demam, tidak sakit kepala, tidak sakit perut, walaupun saya makan ikan mentah dan minum air yang sudah bercampur air laut,” tuturnya.
Minggu Kedua: Mulai Pasrah
Memasuki minggu kedua, kondisi Esau semakin sulit.
Makanan sudah tidak ada. Air minum juga sangat terbatas. Tenaga semakin berkurang. Saat-saat itu ia mulai merasa bahwa hidupnya mungkin akan berakhir di tengah laut.
Dalam kondisi seperti itu, Esau masih punya harapan dengan doa. Terus memohon kepada Tuhan agar diberikan pertolongan, makanan, dan air.
“Saya katakan kepada Tuhan, kalau memang nyawa saya mau diambil, ambil saja. Saya sudah tidak punya makanan, air, dan tenaga,” katanya.
Namun, setiap kali tertidur dan bangun pagi hari, masih dalam keadaan hidup dan relatif sehat
Hal ini membuatnya kembali memiliki harapan.
“Saya berpikir, mungkin Tuhan masih mengizinkan saya hidup di dunia,” ujarnya.
Dalam kesendiriannya di tengah samudera Pasifik itu, pikirannya selalu tertuju kepada keluarganya di rumah. Ia juga mengaku teringat ibunya yang selalu mendoakannya, serta anak dan istrinya di Bido Batang Dua
“Saya berpikir, siapa mengurus keluarga saya kalau saya tidak kembali?” katanya.

Seekor Burung Menjadi Makanan Berikutnya
Memasuki minggu ketiga, sebuah kejadian kembali memberikan harapan hidup.
Seekor burung yang bentuknya menyerupai bebek atau itik tiba-tiba hinggap di atas perahunya.
Esau berhasil menangkap burung tersebut. Karena ditangkap di sore hari, ia mengikat burung itu dan baru menyembelih dan mengolahnya paginya. Burung tersebut kemudian dipotong dan dijadikan makanan. Sama seperti ikan sebelumnya, Esau tidak langsung menghabiskan daging burung itu. Tapi dagingnya dimakan sedikit demi sedikit.
Sisa daging dan bagian yang masih bisa dimanfaatkan dijemur hingga kering. Dengan cara itu, burung tersebut dapat menjadi sumber makanan selama beberapa hari.
Namun, persediaan itu kembali hampir habis. Esau kembali hanya bisa berharap kepada Tuhan.
1 Agustus 2026, Kapal Prancis jadi Dewa Penyelamat
Setelah sekitar 26 hari terombang- ambing, pertolongan akhirnya datang.
Hari itu Sabtu, 1 Agustus 2026. Esau berada jauh di kawasan Samudra Pasifik. Posisinya sudah sangat jauh dari wilayah awal tempat ia berangkat. Sebuah kapal berbendera Prancis yang sedang melakukan perjalanan dari Australia menuju China melintas di kawasan tersebut. Kapal itu menyelamatkan Esau Sidemo. Kapal kargo LNG Endeavour, merupakan kapal kargo raksasa berbendera Prancis sedang berlayar dari Australia menuju Terminal LNG Yangshan di Shanghai, China. Meskipun perahu Esau tidak terdeteksi radar kapal. Ada kru kapal melihat keberadaan Esau secara langsung di tengah lautan sehingga akhirnya dia diselamatkan.
Ada seorang kru kapal yang bekerja di bagian mesin sedang berada di luar ruangan dan kemudian keluar ke area kolam renang. Dari situ melihat sesuatu yang ternyata merupakan perahu kecil Esau. Jaraknya diperkirakan sekitar 80 hingga 90 meter. Kru itu kemudian berusaha menarik perhatian awak kapal lain dan memberikan tanda kepada Esau.
Saat itu kapal yang semula melaju dan sudah melewati perahu Esau akhirnya berbalik.
“Waktu itu saya tidur. Ketika bangun, saya lihat ada kapal menuju ke arah saya. Semakin dekat, semakin dekat. Kemudian ada kru melihat saya. Kru itu bernama Raulis, berkebangsaan Prancis,” cerita Esau.
Saat kapal makin dekat, Esau mengaku mendapatkan tenaga yang sebelumnya sudah hampir hilang. Ia bahkan mampu melompat dari perahunya dan berenang menuju kapal.
“Saya tidak tahu dari mana tenaga itu. Mungkin karena senang melihat ada pertolongan. Rasanya tenaga saya kembali,” ujarnya.
Bagi Esau, peristiwa tersebut merupakan pertolongan Tuhan yang datang saat dirinya sudah dalam kondisi sangat sulit.

Mendapat Perawatan di Kapal
Setelah berhasil dievakuasi, Esau mendapatkan pertolongan dari awak kapal. Kendala komunikasi sempat menjadi persoalan karena sebagian besar awak kapal menggunakan bahasa Inggris. Namun, komunikasi akhirnya dapat dilakukan dengan aplikasi penerjemah di telepon seluler.
Esau kemudian mendapatkan perawatan medis. Selama berada di perahu kecil, kulit tubuhnya mengalami luka dan mengelupas akibat paparan sinar matahari dalam waktu lama.
Selain panas matahari, kondisi perahu berbahan fiber juga membuat kulitnya mengalami iritasi.
Di atas kapal, ia mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang tersedia.
Kapten kapal bersama salah seorang anak buah kapal ikut merawat Esau. Mereka juga berkomunikasi dengan dokter di Prancis untuk mendapatkan petunjuk mengenai penanganan medis yang tepat.
Perlahan kondisi Esau membaik.
Sekitar enam hingga tujuh hari setelah berada di kapal, tenaganya mulai kembali.
Ia mulai mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, termasuk susu, buah-buahan, serta makanan lainnya. Setelah sebelumnya bertahan dengan ikan, kelapa, burung, dan air hujan, Esau akhirnya dapat kembali makan dengan normal.
Banyak Kejadian Aneh
Selama di tengah laut, Esau juga mengaku mengalami beberapa kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan.
Salah satunya ketika melihat sebuah kapal dengan lampu yang sangat terang pada malam hari.
Dia sempat memberikan tanda menggunakan senter dengan harapan kapal itu melihat keberadaannya.
Namun, tidak ada respons. Kapal itu kemudian terlihat semakin dekat, sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya. Dalam kesempatan lain, Esau mengaku pernah melihat daratan dengan pasir putih. Ia sempat merasa senang karena mengira telah menemukan daratan.
Namun, ketika perahunya makin mendekati lokasi tersebut, pemandangan itu tiba-tiba menghilang.
“Dalam hati saya ini sudah jalan Tuhan mempertemukan dengan daratan, ternyata semakin dekat hamparan pasir putih itu mengilang,” cerita Esau.
Pengalaman tersebut membuatnya bingung. Esau juga mengaku pernah melihat tiga ekor lumba-lumba yang berenang melewati perahunya. Menurut pengamatannya, ketiga lumba-lumba tersebut bergerak ke arah timur. Saat itu, arah perahu Esau juga bergerak menuju timur setelah terbawa arus di kawasan Samudra Pasifik.
Ia meyakini kemunculan tiga lumba-lumba tersebut sebagai menjadi petunjuk menuju arah datangnya pertolongan. Tidak lama setelah itu, ia akhirnya ditemukan kapal yang menyelamatkannya.
Tiba di Shanghai dan Dipulangkan ke Indonesia
Setelah Esau ditemukan kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Shanghai, China kurang lebih 12 hari. Setelah tiba di pelabuhan, Esau menjalani proses pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) juga datang menjemputnya.
Esau dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum dipersiapkan kembali ke Indonesia. Ia kemudian tinggal sekitar dua hari di Shanghai.
Setelah seluruh proses administrasi dan pemeriksaan selesai, Esau dipulangkan ke Indonesia.
Sesampainya di Jakarta, ia dijemput keluarganya. Pertemuan dengan keluarga menjadi momen sangat berarti setelah lebih dari tiga minggu di laut dan menghadapi ketidakpastian hidup.

Kini Masih Trauma
Sebelum kejadian itu, Esau mengaku rutin memancing. Namun, aktivitas itu hanya merupakan hobi.Ia biasanya pergi memancing dini hari dan kembali sebelum memulai aktivitas kantor.
Ia biasanya hanya sekitar setengah jam. Jika mendapatkan ikan, ia membawanya pulang. Jika tidak mendapatkan ikan, ia tetap kembali. Karena itu, ia tidak pernah membayangkan aktivitas sederhana tersebut berubah menjadi pengalaman hidup dan mati selama 26 hari.
Kini, Esau masih trauma. Belum berani kembali melaut karena masih terbayang kejadian itu.
“Masih berat untuk melaut,”katanya.
Pesan untuk Nelayan
Dari pengalaman ini, Esau mengingatkan para nelayan agar tidak menganggap remeh aktivitas melaut, meskipun hanya mencari ikan atau sekadar hobi.Persiapan menjadi hal penting sebelum melaut. Bekal makanan dan air minum yang cukup, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta pemantauan kondisi cuaca merupakan hal yang harus diperhatikan.
“Untuk keselamatan harus selalu diperhatikan. Kondisi laut juga harus dilihat,” ujarnya.

Apa yang dialami Esau jadi pengingat bahwa kondisi laut dapat berubah sewaktu-waktu. Perjalanan yang semula hanya direncanakan singkat berubah menjadi perjuangan panjang hidup dan mati. Bagi Esau, 26 hari di tengah laut bukan hanya tentang bertahan dari lapar dan haus, tetapi juga tentang mempertahankan harapan.
Di tengah keterbatasan makanan, air, tenaga, dan tanpa kepastian kapan pertolongan datang, ia memilih terus berdoa.
Akhirnya, setelah terombang ambing di tengah samudera Pasifik dan hampir kehilangan harapan, sebuah kapal yang semula tidak melihatnya justru berbalik arah menolong dan membawa Esau kembali ke rumah dan keluarganya. (*)
Penulis: AJi Jurnalis, wartawan Kabarpulau.co.id dan Halmaherapedia.com
Komentar