Home Headline Perjuangan Esau Sidemo, 26 Hari Bertarung Nyawa di Samudera Pasifik
HeadlineKota Ternate

Perjuangan Esau Sidemo, 26 Hari Bertarung Nyawa di Samudera Pasifik

Bagikan
Esau Sidemo saat menjalani perawatan dari pihak kapal setelah ditemukan terombang ambing di Samudera Pasifik, foto Esau
Bagikan

Temui Hal Mistis hingga Lumba- lumba sebagai Penunjuk Pertolongan

Fajar mulai menyingsing di ufuk Timur pada Selasa (7/07 2026). Waktu menujukan pukul 04.30 WIT, Esau Sidemo (57 tahun) bersiap untuk melaut. Dia mencari ikan untuk kebutuhan makan keluarga. Jarak dari kampung ke lokasi mancing hanya kurang lebih 2 mil laut dari Kelurahan Bido Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara. Dia kemudian menyiapkan berbagai peralatan mancing, mesin dan perahu 2 GT bersama bahan bakar. Seanjutnya menuju tempat   biasa memancing.

Esau  juga seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Camat Pulau Batang Dua. Karena itu berniat memancing   setengah jam satau 1 jam kemudian pulang dan masuk kantor.  Karena itu juga, tidak ada bekal dan alat penting dia bawa. Hanya air minum kurang 1 liter. Tidak ada makanan atau cemilan.

Saat dalam perjalanan dan belum sempat memancing, mesin berkapasitas 15 PK yang digunakan  mati  total.  Dia berusaha memperbaiki dan mencari tahu sumber kerusakannya. Namun mesin tak bisa hidup.Bahkan starter mesin ikut rusak

“Saya tidak ada persiapan, karena sudah biasa memancing sebentar lalu pulang. Bekal atau alat cadangan mesin juga tidak ada,” katanya memulai cerita Senin (31/8/2026).

Saat mati mesin juga dia tidak bisa mengontak keluarga dan famili karena tidak ada jaringan telpon. Dia terus berusaha memperbaiki mesinnya. Tak disadari perahunya sudah terbawa arus cukup jauh ke laut bebas.

Kondisi Esau sesaat setelah diangkat dari Laut Samudera Pasifik nyaris sebulan,

Ada Kapal Lewat Tapi Tak Beri  Bantuan

“Saat sudah terang posisi perahu sudah sangat jauh dari Pulau Batang Dua. Memang ada kapal sabuk lewat tapi saya panggil panggil mereka jalan terus,” katanya. Siangnya ada kapal fery lewat menuju Batang Dua tetapi mereka juga tidak sempat memberikan bantuan.

Ketik hari makin sore saat perahu makin menjauh dia mulai pasrah. Apalagi arus laut terus bergerak membawa keluar jauh perahunya dari daratan.

Ayah dua anak dan empat cucu ini, nyaris hilang harapan ketika badai datang. Angin dan gelombang menghantam perahunya semakin menjauh dari daratan.  Malam pun tiba dan dia mulai menjalani hari—hari di atas perahu fiber berkapasitas 2 GT tersebut. Saat itulah Esau mulai menyadari  dirinya berada dalam situasi berbahaya.

“Dari situ saya berpikir, mungkin Tuhan mengizinkan saya meninggal atas perahu ini,” katanya.

 Ini pengalaman tak terlupakan oleh Esau. Niatnya pergi memancing seperti biasa berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.  Bertarung nyawa  terombang-ambing seorang diri selama   26 hari tanpa makanan dan air di atas samudera luas.

Bertahan dengan Ikan yang Melompat ke Perahu

Hari-hari pertama menjadi ujian berat bagi Esau. Dalam kondisi lapar dan tanpa kepastian kapan akan mendapat pertolongan, ia berusaha mencari makanan dari laut.

Namun, kondisi fisiknya semakin melemah. Ia juga tidak selalu mampu memancing karena pergerakan perahu yang terus terbawa arus dan gelombang.

Di tengah situasi tersebut, sebuah kejadian yang tidak diduganya terjadi.

Seekor ikan tiba-tiba melompat ke dalam perahunya.

Ikan pertama yang didapatnya oleh masyarakat setempat disebut ikan layar atau marlin. Ukurannya tidak besar, hanya sekitar satu jengkal.Ikan tersebut menjadi makanan yang sangat berarti bagi Esau.

“Kalau saya bilang itu mu’zizat  Tuhan,” ujarnya.

Saat ikan habis dia coba melepas alat pancing  dan ada satu ikan didapat, orang di kampung  biasa menyebutnya ikan sabel— ikan tipis.  Ikan-ikan tersebut dimanfaatkan sehemat mungkin. Dagingnya dimakan sedikit demi sedikit agar dapat bertahan lebih lama. Sisa daging dan tulang ikan yang masih dapat dimanfaatkan bahkan dijemur untuk dibuat seperti ikan kering.

“Pokoknya harus hemat karena saya tidak tahu kapan akan mendapat pertolongan,” katanya.

Namun, persediaan tersebut akhirnya habis.

Pada minggu pertama badan sudah mulai kurus karena tidak ada asupan makanan dan hanya minum air laut. Meski begitu tetap punya harapan.

“Saya yakin Tuhan mengirimkan makanan untuk saya makan agar tetap bertahan hidup,” katanya.

Di saat ikan sudah habis, dia menemukan dua buah kelapa yang hanyut, lalu dibelah dan diambil dagingnya.

“Ada satu  tak ada isinya, satunya lagi daging kelapa sudah busuk. Tetapi tetap dibersihkan dan dijemur agar tetap bisa dimakan,” kisahnya.

Sementara itu, kondisi tubuh Esau semakin lemah. Memasuki minggu kedua, makanan semakin sulit diperoleh. Ikan pun sudah tidak ada. Ia mulai lebih sering mengandalkan air hujan.

Esau saat tiba di Shanghai dan dijemput petugas imigrasi ,foto Esau

 

Air Hujan Menjadi Penyelamat

Selama terombang- ambing di laut, Esau beberapa kali mendapatkan hujan. Hujan yang turun tidak selalu berlangsung lama. Namun, setiap kali hujan turun, ia berusaha menampung air sebanyak mungkin. Air hujan yang didapatnya terkadang bercampur dengan air laut sehingga terasa asin. Esau kemudian berusaha menyaringnya menggunakan kain atau bahan yang tersedia di perahu. Air tersebut tetap diminumnya karena tidak ada pilihan lain.

Ia mengaku kondisi tersebut membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun, secara mengejutkan, ia tidak mengalami penyakit serius.

“Saya bersyukur setiap bangun pagi badan terasa kuat   tidak pernah sakit. Tidak demam, tidak sakit kepala, tidak sakit perut, walaupun saya makan ikan mentah dan minum air yang sudah bercampur air laut,” tuturnya.

Minggu Kedua: Mulai Pasrah

Memasuki minggu kedua, kondisi Esau semakin sulit.

Makanan sudah  tidak ada. Air minum juga sangat terbatas. Tenaga semakin berkurang. Saat-saat itu  ia mulai merasa bahwa hidupnya mungkin akan berakhir di tengah laut.

Dalam kondisi  seperti itu, Esau masih punya harapan dengan doa. Terus memohon kepada Tuhan agar diberikan pertolongan, makanan, dan air.

“Saya katakan kepada Tuhan, kalau memang nyawa saya mau diambil, ambil saja. Saya sudah tidak punya makanan, air, dan tenaga,” katanya.

Namun, setiap kali tertidur dan  bangun  pagi hari,  masih dalam keadaan hidup dan relatif sehat

Hal  ini membuatnya kembali memiliki harapan.

“Saya berpikir, mungkin Tuhan masih mengizinkan saya hidup di dunia,” ujarnya.

Dalam kesendiriannya di tengah samudera Pasifik itu, pikirannya selalu tertuju kepada keluarganya di rumah. Ia juga mengaku teringat ibunya yang selalu mendoakannya, serta anak dan istrinya  di Bido Batang Dua

“Saya berpikir, siapa  mengurus keluarga saya kalau saya tidak kembali?” katanya.

Esau berpose dengan kapten kapal, foto Esau

Seekor Burung Menjadi Makanan Berikutnya

Memasuki minggu ketiga, sebuah kejadian kembali memberikan harapan hidup.

Seekor burung yang bentuknya menyerupai bebek atau itik tiba-tiba hinggap di atas perahunya.

Esau berhasil menangkap burung tersebut. Karena ditangkap di  sore hari, ia mengikat burung itu dan baru menyembelih dan mengolahnya  paginya. Burung tersebut kemudian dipotong dan dijadikan makanan. Sama seperti ikan sebelumnya, Esau tidak langsung menghabiskan daging burung itu. Tapi dagingnya dimakan sedikit demi sedikit.

Sisa daging dan bagian yang masih bisa dimanfaatkan dijemur hingga kering. Dengan cara itu, burung tersebut dapat menjadi sumber makanan selama beberapa hari.

Namun, persediaan itu kembali hampir habis. Esau kembali hanya bisa berharap kepada Tuhan.

1 Agustus 2026, Kapal Prancis jadi Dewa Penyelamat

Setelah sekitar 26 hari terombang- ambing, pertolongan akhirnya datang.

Hari itu Sabtu, 1 Agustus 2026. Esau berada jauh di kawasan Samudra Pasifik. Posisinya sudah sangat jauh dari wilayah awal tempat ia berangkat. Sebuah kapal berbendera Prancis yang sedang melakukan perjalanan dari Australia menuju China melintas di kawasan tersebut. Kapal itu   menyelamatkan Esau Sidemo. Kapal kargo  LNG Endeavour, merupakan kapal kargo raksasa berbendera Prancis sedang berlayar dari Australia menuju Terminal LNG Yangshan di Shanghai, China. Meskipun  perahu  Esau   tidak terdeteksi  radar kapal. Ada kru kapal  melihat keberadaan Esau secara langsung  di tengah lautan  sehingga akhirnya dia diselamatkan.  

Ada  seorang kru kapal yang bekerja di bagian mesin sedang berada di luar ruangan dan kemudian keluar ke area kolam renang. Dari situ  melihat sesuatu yang ternyata merupakan perahu kecil Esau. Jaraknya diperkirakan sekitar 80 hingga 90 meter. Kru itu kemudian berusaha menarik perhatian awak kapal lain dan memberikan tanda kepada Esau.

Saat itu  kapal yang semula melaju dan sudah melewati perahu Esau akhirnya berbalik.

“Waktu itu saya tidur. Ketika bangun, saya lihat ada kapal menuju ke arah saya. Semakin dekat, semakin dekat. Kemudian ada kru melihat saya. Kru itu bernama Raulis, berkebangsaan Prancis,” cerita Esau.

Saat kapal makin dekat, Esau mengaku mendapatkan tenaga yang sebelumnya sudah hampir hilang. Ia bahkan mampu melompat dari perahunya dan berenang menuju kapal.

“Saya tidak tahu dari mana tenaga itu. Mungkin karena senang melihat ada pertolongan. Rasanya tenaga saya kembali,” ujarnya.

Bagi Esau, peristiwa tersebut merupakan pertolongan Tuhan yang datang  saat dirinya sudah  dalam kondisi sangat sulit.

Esau Sidemo saat menjalani perawatan dari pihak kapal setelah ditemukan terombang ambing di Samudera Pasifik, foto Esau

Mendapat Perawatan di Kapal

Setelah berhasil dievakuasi, Esau   mendapatkan pertolongan dari awak kapal. Kendala komunikasi sempat menjadi persoalan karena sebagian besar awak kapal menggunakan bahasa Inggris. Namun, komunikasi akhirnya dapat dilakukan dengan   aplikasi penerjemah di telepon seluler.

Esau kemudian mendapatkan perawatan medis. Selama berada di perahu kecil, kulit tubuhnya mengalami luka dan mengelupas akibat paparan sinar matahari dalam waktu lama.

Selain panas matahari, kondisi perahu berbahan fiber juga membuat kulitnya mengalami iritasi.

Di atas kapal, ia mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang tersedia.

Kapten kapal bersama salah seorang anak buah kapal ikut merawat Esau. Mereka juga berkomunikasi dengan dokter di Prancis untuk mendapatkan petunjuk mengenai penanganan medis yang tepat.

 

Perlahan kondisi Esau membaik.

Sekitar enam hingga tujuh hari setelah berada di kapal, tenaganya mulai kembali.

Ia mulai mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, termasuk susu, buah-buahan, serta makanan lainnya. Setelah sebelumnya bertahan dengan ikan, kelapa, burung, dan air hujan, Esau akhirnya dapat kembali makan dengan normal.

 

Banyak Kejadian Aneh

Selama di tengah laut, Esau juga mengaku mengalami beberapa kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan.

Salah satunya  ketika  melihat sebuah kapal dengan lampu yang sangat terang pada malam hari.

Dia sempat memberikan tanda menggunakan senter dengan harapan kapal itu melihat keberadaannya.

Namun, tidak ada respons. Kapal itu kemudian terlihat semakin dekat, sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya. Dalam  kesempatan lain, Esau mengaku pernah melihat daratan dengan pasir putih. Ia sempat merasa  senang karena mengira telah menemukan daratan.

Namun, ketika perahunya  makin mendekati lokasi tersebut, pemandangan itu tiba-tiba menghilang.

“Dalam hati saya ini sudah jalan Tuhan  mempertemukan dengan daratan, ternyata semakin dekat hamparan pasir  putih itu mengilang,” cerita Esau.

Pengalaman tersebut membuatnya bingung.  Esau juga mengaku pernah melihat tiga ekor lumba-lumba yang berenang melewati perahunya. Menurut pengamatannya, ketiga lumba-lumba tersebut bergerak ke arah timur. Saat itu, arah perahu Esau juga bergerak menuju timur setelah terbawa arus di kawasan Samudra Pasifik.

Ia meyakini kemunculan tiga lumba-lumba tersebut sebagai menjadi petunjuk menuju arah datangnya pertolongan. Tidak lama setelah itu, ia akhirnya ditemukan kapal yang menyelamatkannya.

Tiba di Shanghai dan Dipulangkan ke Indonesia

Setelah Esau ditemukan  kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Shanghai, China kurang lebih 12 hari. Setelah tiba di pelabuhan, Esau menjalani proses pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI)  juga datang menjemputnya.

Esau dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum dipersiapkan kembali ke Indonesia. Ia kemudian tinggal sekitar dua hari di Shanghai.

Setelah seluruh proses administrasi dan pemeriksaan selesai, Esau dipulangkan ke Indonesia.

Sesampainya di Jakarta, ia  dijemput keluarganya. Pertemuan dengan keluarga menjadi momen  sangat berarti setelah lebih dari tiga minggu  di laut dan menghadapi ketidakpastian hidup.

Dijenguk Kapolda Malut saat tiba di Ternate, foto Esau

Kini Masih Trauma

Sebelum kejadian itu,  Esau mengaku rutin  memancing. Namun, aktivitas itu hanya merupakan hobi.Ia biasanya pergi memancing dini hari dan kembali sebelum memulai aktivitas kantor.

Ia biasanya hanya sekitar setengah jam. Jika mendapatkan ikan, ia membawanya pulang. Jika tidak mendapatkan ikan, ia tetap kembali. Karena itu, ia tidak pernah membayangkan aktivitas sederhana tersebut  berubah menjadi pengalaman hidup dan mati selama 26 hari.

Kini,   Esau  masih  trauma. Belum berani kembali melaut karena masih terbayang  kejadian itu.

“Masih berat untuk melaut,”katanya.

Pesan untuk Nelayan

Dari pengalaman  ini, Esau mengingatkan para nelayan agar tidak menganggap remeh aktivitas melaut, meskipun hanya  mencari ikan atau sekadar hobi.Persiapan menjadi hal penting sebelum melaut. Bekal makanan dan air minum yang cukup, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta pemantauan kondisi cuaca merupakan hal yang harus diperhatikan.

“Untuk keselamatan harus selalu diperhatikan. Kondisi laut juga harus dilihat,” ujarnya.

Saat kembali ke Ternate Esau juga dijenguk Wali Kota Ternate Tauhid Soleman, foto Esau

Apa yang dialami Esau  jadi pengingat bahwa kondisi laut dapat berubah sewaktu-waktu. Perjalanan yang semula hanya direncanakan singkat berubah menjadi perjuangan panjang hidup dan mati. Bagi Esau, 26 hari di tengah laut bukan hanya tentang  bertahan dari lapar dan haus, tetapi juga tentang mempertahankan harapan.

Di tengah keterbatasan makanan, air, tenaga, dan tanpa kepastian kapan pertolongan datang, ia memilih terus berdoa.

Akhirnya, setelah  terombang ambing di tengah samudera Pasifik dan hampir kehilangan harapan, sebuah kapal yang semula tidak melihatnya justru berbalik arah  menolong dan membawa Esau kembali ke rumah dan keluarganya. (*)

Penulis: AJi Jurnalis, wartawan Kabarpulau.co.id  dan Halmaherapedia.com

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
HeadlineMorotai

Ketika Jepang Datang dan Telusuri Jejak Perang Dunia Ke-II di Morotai 

 Teruo Nakamura, Bukti Orang Terakhir Jepang Pulang Hidup Tahun 1975 Halmaherapedia- Pulau...

DaerahHeadline

Pemprov Malut  Godok  Empat Rancangan Pergub

 Sedang Lakukan Harmonisasi dengan Kementerian Hukum Halmaherapedia--Pemerintah provinsi Maluku Utara sedang menggodok ...

DaerahHeadline

Industri Kecil Menengah dari Malut, Hadir di Eka Tjipta UMKM Fair 2026  

Halmaherapedia— Ada kurang lebih 120 produk olahan  berbahan baku lokal dari empat...

DaerahHeadline

Pemprov Wajib Sampaikan Kinerja Lingkungan Hidup Daerah

Halmaherapedia— Setiap tahun pemerintah daerah diwajibkan menyampaikan kinerja lingkungan hidup daerah melalui...