Teruo Nakamura, Bukti Orang Terakhir Jepang Pulang Hidup Tahun 1975
Halmaherapedia- Pulau Morotai memiliki jejak panjang sejarah perang dunia ke-2. Pulau di bibir pasifik yang berpisah menjadi Kabupaten sendiri dari Halmahera Utara pada 20 Maret 2009 lalu itu,menyimpan berbagai artefak perang yang hingga kini belum banyak diteliti dan diungkap.
Terkait soal tinggalan sejarah itu, sebuah tim Tim yang berada di bawah Japan Association for Recovery and Repatriation of War Casualties (JARRWC) sedang melakukan riset dan eksavasi di Morotai. Tim yang berada di bawah organisasi resmi yang ditunjuk pemerintah Jepang– di bawah naungan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang itu, bertugas untuk mencari, mengidentifikasi, mengekskavasi, dan memulangkan (repatriasi) kerangka tentara Jepang yang gugur selama Perang Dunia II di berbagai belahan dunia termasuk di Morotai. Berdasarka informasi yang berhasil dihimpun Halmaherapedia.com, tim yang melakukan riset itu masing-masing Okamoto Masahiro sebagai Ketua Tim JARRWC, Tetsuhashi Masashi Perwakilan Kedutaan Besar Jepang Katsutoshi Matsumoto Perwakilan Tim Jepang Fumihiko Matsumoto (Perwakilan/Tim Jepang bersama sejumlah staf ahli JARRWC dan perwakilan Kedutaan Besar Jepang.
Tim ini telah berada di Morotai, setelah sebelumnya diterima secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai pada Rabu (2/9/2026) lalu. Sebelumnya, Selasa (1/9/2026) tim ini juga telah diterima oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Samsudin A. Kadir bersama sejumlah organisasi perangkat daerah di Kantor Gubernur Maluku Utara di Sofifi.
Di Morotai pertemuan juga dipimpin oleh Sekda Morotai Muhammad Umar Ali. Kesempatan itu Umar menyampaikan bahwa Pemkab Morotai siap mendukung dan memberikan informasi yang dapat membantu proses pencarian.

“Pemerintah daerah dan masyarakat akan memberikan informasi yang dibutuhkan. Intinya, kami dukung niat baik ini. Apa saja yang kami ketahui tentang peninggalan Jepang di Morotai akan kami informasikan,”ujarnya.
Dia turut jelaskan, hubungan sejarah Morotai dengan Jepang cukup panjang. Pernah menjadi salah satu wilayah penting dalam rangkaian peristiwa Perang Dunia II, termasuk sebagai kawasan yang pernah diduduki Jepang. Kisah paling diingat semua orang, terutama di Morotai hingga kini adalah Teruo Nakamura. Dia adalah salah satu prajurit Jepang yang bertahan di hutan Morotai kurang lebih 30 tahun. Dia ditemukan pada 18 Desember 1974 oleh tim Angkatan Udara Indonesia dari persembunyiannya di Pulau Morotai. Nakamura lantas dievakuasi ke Jakarta dan dipulangkan pada Januari 1975 ke tanah air asalnya di Taiwan. Kisah ini diabadikan Pemkab Morotai melalui patung Nakamura serta penamaan Desa Nakamura yang berada di sekitar lokasi yang dikaitkan dengan tempat tinggalnya.
Umar lantas berharap misi pencarian oleh JARRWC tidak berhenti pada proses pemulangan kerangka jenazah prajurit Jepang saja. Hubungan historis Indonesia dan Jepang di Morotai juga dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama lebih luas, khususnya di bidang kebudayaan dan sektor lainnya.
Ketua Tim JARRWC, Okamoto Masahiro, menjelaskan kedatangan mereka berada di bawah JARRWC yang merupakan organisasi resmi yang ditunjuk pemerintah Jepang untuk lakukan pencarian, identifikasi, serta pemulangan sisa-sisa jenazah prajurit Jepang yang gugur dalam Perang Dunia II.
“Misi kami itu peninjauan lapangan, survei, dan penggalian di berbagai wilayah bekas medan perang. Tidak hanya di Morotai tapi ada juga di Papua, Papua Barat,” jelas Okamoto.
Dia bilang lagi setiap kerangka yang ditemukan akan diambil sampelnya untuk dilakukan identifikasi dan tes DNA. Jika identitasnya berhasil diketahui, sisa jenazah akan dipulangkan ke Jepang untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan secara layak.
Okamoto lantas meminta dukungan Pemkab Morotai, terutama dalam koordinasi, pemberian informasi, serta fasilitasi selama pelaksanaan survei dan pencarian di lapangan. Hasil survei dan proses identifikasi nantinya akan disampaikan kepada pemerintah daerah.
Sebelumnya saat di Sofifi Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyambut baik kunjungan tim ini dan menyatakan dukungannya. Samsudin A Kadir menyampaikan bahwa pemerintah siap mendukung dan memfasilitasi proses ini. Sinergi lintas sektor sangat diperlukan agar seluruh tahapan identifikasi hingga rencana pengangkatan kerangka dapat berjalan lancar, aman, dan sesuai regulasi yang berlaku.
“Selain punya nilai historis dan kemanusiaan bagi sejarah Jepang, agenda ini juga diharapkan dapat memperkuat pelestarian sejarah serta mendorong potensi wisata sejarah (historical tourism) di wilayah Maluku Utara, khususnya di Pulau Morotai yang dikenal sebagai salah satu pangkalan militer penting selama Perang Dunia II di kawasan Pasifik,” ujar Samsudin. (*)
Komentar