Halmherapedia– Pulau-pulau kecil dengan hutan mangrove yang dimilikinya, memiliki peran penting bagi kehidupan. Karena itu keberadaan eksositem ini, memberi banyak keuntungan, baik secara ekonomi, memenuhi kebutuhan pangan, hingga menjadi penyerap karbon tertinggi. Karena peran itu, maka dirasa penting mendorong masyarakat di wilayah ekosistem mangrove berada, melindunginya dengan melakukan konservasi ekosistem yang rusak karena adanya eksploitasi.
Seperti dilakukan LSM Forum Studi Halmahera (FOSHAL) Maluku Utara. Lembaga ini mulai mengawali pendampingan masyarakat dengan berusaha mendorong masyarakat melindungi dan melakukan konservasi hutan mangrove di kampong mereka.
Salah satu desa yang jadi target pendampingan adalah, kelompok perempuan Desa Paser Putih Halmahera Selatan. Desa di Pulau Waidoba Kayoa Selatan Halmahera Selatan Maluku Utara itu, sebagian mangrove-nya telah rusak akibat eksploitasi massive. Karena itu butuh konservasi untuk mengembalikan kondisi mangrove seperti sedia kala.
Berhubungan dengan hal itu, pada Minggu (2/8/2026) tim Foshal mengawali rencana itu dengsn melakukan penguatan kelompok perempuan Desa Paser Putih Kayoa untuk bersama melakukan konservasi mangrove di desa mereka.

Untuk kegiatan awal ini selain dibentuk kelompok, juga diberikan penguatan menyiapkan benih. Mulai dari proses penyemaian hingga proses penanaman. Kelompok perempuan yang diberi nama I What atau dalam bahasa Kayoa memiliki makna Pohon Mangrove itu, beranggota 15 orang. Mereka ini akan menyiapkan benih mangrove hingga lakukan proses penanaman mangrove.
Saat ini ada kurang lebih 83 hektar lahan hutan mangrove di desa ini, kurang lebih 25 persennya telah mengalami kerusakan.Karena butuh segera direhabilitasi.
Kesempatan itu Dr Zulhan Harahap selaku konsultan ahli Foshal yang memberikan penguatan dalam pertemuan itu, menjelaskan proses penyemaian benih dari buah yang dihasilkan beberapa jenis mangrove. Termasuk proses penyiapan media tanam untuk benih yang disiapkan. Untuk awal proses penyiapan benih, warga menyiapkan lokasi penyemaian dan bahan yang akan digunakan.
Jika proses penyemaian dan pemeliharaan benih sudah sampai waktunya dilakukan penanaman di lokasi-lokasi sekitar desa yang dikelilingi mangrove. Untuk jenis Rhizopora butuh waktu 3 hingga 6 bulan ke depan tergantung jenis mangrove-nya.
Sekadar diketahui kawasan mangrove di Paser Putih dimanfaatkan warga menjadi sumber pakan ternak, tempat mengambil sumber pangan mulai dari kepiting, ikan hingga kerang-kerangan atau warga mengenalnya dengan bia popaco. Tidak itu saja mereka juga memanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Setiap saat warga mengambil kerang, menangkap kepiting hingga menangkap ikan yang terperangkap saat air surut di kawasan hutan mangrove,”kata Ibu Masniah salah satu anggota kelompok konservasi mangrove.
Karena fungsi dan manfaatnya itu menurut Dr Zulhan, maka perlu dijaga dan dilestarikan mangrove yang ada. Selain itu menurutnya, saat ini hutan termasuk hutan mangrove yang dilindungi selain fungsinya menyerap karbon, juga secara ekonomi memiliki nilai tukar yang suatu saat bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat desa. Dia contohkan saat ini ada penjualan/perdagangan karbon yang sudah dilakukan di beberapa tempat di Indonesia. Harapanya, suatu saat dengan perlindungan mangrove yang dilakukan masyarakat bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Jadi tidak hanya nilai ekonomi dalam konteks pangan dan lingkungan tetapi juga ke depan bisa memberi kontribusi pendapatan bagi masyarakat secara keseluruhan,”ujar Zulhan.
Sementara Zulkifli Idris dari FOSHAL menyampaikan apa yang dilakukan lembaganya saat ini adalah sebuah upaya mendampingi masyarakat terutama berupaya membantu masyarakat dalam keikusertaanya menyelamatkan lingkungan dan pangannya.
Di desa Paser Putih, salah satu yang didorong adalah menyelamatkan hutan mangrove yang termasuk membantu mendorong upaya warga di dalam memenuhi pangan mereka. Ini katanya menjadi langkah awal menyiapkan warga terutama kelompok perempuan untuk ikut serta menyelamatkan lingkungan. “Mengapa sasarannya ke perempuan, karena merekalah yang menentukan ketersediaan pangan dan pemanfaatnya bagi keluarga. Selain k memastikan pangan di rumah bisa terpenuhi untuk keluarga, juga ikut serta menyelamatkan bumi dari kerusakan,” tutupnya.(*)
Komentar