TERNATE– Dugaan bermain main dengan dana perjalanan dinas (Perjadin) di instutusi DPRD maupun pemerintah bukan rahasia lagi. Sebab, cerita- cerita soal ini muncul setiap saat meski sulit dipegang.
Adalah Nurjaya Hi. Ibrahim salah satu anggota DRD dari Fraksi Gerindra menjadi peniup peluit kabar ini.
Bunyi peluit Nurjaya membuat koleganya sesama anggota DPRD meradang. Nurjaya yang dikenal sebagai pengusaha yang kemudian masuk gelanggang politik itu, aksinya membuat sesama anggota DPRD Kota Ternate meradang
Nurlaela Syarif anggota DPRD dari Fraksi NasDem di DPRD Kota Ternate menanggapi serius soal ini yang kemudian berkembang menjadi laporan dugaan korupsi perjalanan dinas (perjadin) fiktif.
Untuk memastikan isyu hangat ini berikut rincian urutan peristiwanya:
- Februari 2026 : Muncul dugaan perjalanan dinas 30 anggota DPRD ke Jakarta yang dibiayai oleh pemilik Vila Lago Montana.
- Pertemuan di Jakarta ini diduga membahas skema untuk memuluskan rencana pembangunan vila tersebut di Ngade, Ternate, yang memerlukan restu dari DPRD.
- Rabu, 22 April 2026 (Insiden Ruang Paripurna):
- Saat rapat paripurna pendapat umum fraksi terhadap LKPJ Wali Kota Ternate 2025, terjadi adu mulut antara Nurjaya dan Nurlela.
- Nurjaya hendak duduk di kursi yang berdekatan dengan Nurlaela, namun Nurlaela secara terang-terangan mengusir atau meminta Nurjaya menjauh dan tidak duduk di dekatnya.
- Nurlaela berdalih tindakannya untuk menghindari konflik karena merasa tidak nyaman, serta mengganggu perilaku Nurjaya sebelumnya, seperti dugaan meminta rekaman CCTV saat kegiatan komisi di Depok dan merekam percakapan rapat internal.
- Nurjaya merasa terhina karena menganggap Nurlaela tidak bisa mengaturnya dan ia meninggalkan ruangan dalam kondisi emosional.
- Rabu, 22 April 2026 (Laporan ke BPK): Segera setelah kejadian di ruang sidang, Nurjaya mendatangi Kantor BPK RI Perwakilan Maluku Utara. Ia melaporkan dugaan perjalanan dinas fiktif yang melibatkan 30 anggota dewan, termasuk pertemuan di Jakarta pada Februari lalu. Nurjaya mengeklaim telah mengantongi bukti fisik dan ingin mengungkap “mainan lama” tersebut agar masyarakat mengetahuinya.
- Kamis, 23 April 2026 (Reaksi Internal DPRD): Langkah Nurjaya memicu kemarahan anggota dewan lainnya. Pimpinan DPRD mengadakan rapat tertutup untuk membahas kisruh yang telah diumumkan ke publik tersebut.
- Sabtu, 25 April 2026 (Laporan ke Badan Kehormatan):
- Tujuh fraksi DPRD (NasDem, Golkar, Gerindra, PKB, Demokrat, serta dua fraksi gabungan) melaporkan Nurjaya ke Badan Kehormatan (BK).
- Laporan kolektif ini diduga kuat dipicu oleh konsolidasi yang dilakukan oleh Nurlaela Syarif yang menganggap Nurjaya telah membuka “aib” lembaga ke publik.
- Nurjaya menyampaikan dengan tegas bahwa jika laporan tersebut diproses, ia menuntut agar sidang BK dilakukan secara terbuka agar masyarakat Ternate dapat menyaksikan langsung dugaan doktrin anggaran oleh wakil rakyat mereka.
Perseteruan ini kini bukan lagi sekedar konflik pribadi antara “Dua Nur”, melainkan telah menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum dan auditor untuk menyelidiki dugaan korupsi berjamaah di lingkungan DPRD saat ini.(aji)
Disarikan dengan bantuan aplikasi kecerdasan buatan (AI)
Komentar