Opini dan Sastra

Pendidikan dan Kemiskinan dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

Share
Share

Oleh: Apdoni Tukang

Mantan Mahasiswa Fakultas Sastera Universitas Khairun Ternate 

Saat membaca bab pertama novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, kita diperlihatkan dengan kenakalan anak-anak remaja saat di bangku pendidikan. Hal  itu sama persis dengan apa yang pernah kita lakukan saat masih belum mengenal apa itu etika.

Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh kecil yang menghidupkan jalannya cerita dalam novel ini, yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron. Tiga anak ini punya cerita sendiri-sendiri tentang perjalanan kehidupan mereka. Salah satu perjalanan panjang adalah soal pendidikan. Pendidikan adalah modal utama untuk meraih kesuksesan, dan masyarakat Pulau Belitung percaya hal ini. Orang tua menyekolahkan anak mereka walau di tengah keterbatasan ekonomi.

Misalnya, orang tua Ikal. Bukan keluarga berada, tetapi tidak pernah menghentikan anak mereka untuk meraih mimpi besar. Ayah Ikal berprofesi sebagai kuli. Ia menyekolahkan dua anak, yaitu Ikal dan Arai.

Andrea Hirata membawa kita pada satu kenyataan yang sampai saat ini masih membelenggu masyarakat. Realitas itu adalah sulitnya mengakses pendidikan bagi masyarakat menengah ke bawah karena keterbatasan ekonomi. Novel Sang Pemimpi ini menggambarkan secara jelas hubungan antara kemiskinan, masa depan anak-anak, dan kerusakan ekologi.

Kemiskinan yang dihadapi anak-anak Pulau Belitung tidak menghentikan anak-anak seperti Ikal, Arai, dan Jimbron untuk bermimpi. Mimpi mereka tidaklah main-main, yaitu bisa kuliah di luar negeri. Mimpi ini mereka tanamkan semasa masih di bangku pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Tidak berhenti di sini, kita akan diperlihatkan pada dua pilihan, yaitu melanjutkan studi atau terjun ke dunia kerja.

Ikal dan Arai memiliki semangat yang tinggi untuk melanjutkan studi mereka. Pulau Jawa adalah tujuan mereka setelah tamat sekolah menengah atas (SMA). Ikal, Arai, dan Jimbron punya mimpi masing-masing. Sehingga, saat masih di bangku sekolah mereka sudah bekerja, tujuannya adalah untuk membiayai kehidupan mereka di tanah Jawa. Namun, di akhir studi, Jimbron berbalik arah. Uang tabungannya selama ia bekerja ia serahkan semuanya kepada Ikal dan Arai. Ia mengakui keterbatasannya sehingga ia memilih tidak lanjut. Ia memilih untuk bekerja, padahal ia tahu pendidikan itu penting baginya, tetapi ia menyadari keterbatasannya.

Lewat novel ini, kita bisa membaca semangat anak-anak dalam menjemput mimpi mereka. Tokoh Ikal dan Arai membuktikan itu lewat semangat, konsistensi, dan mimpi yang tinggi. Bagi mereka, orang miskin tidak punya apa-apa selain mimpi. Oleh karena itu, lewat pendidikan mereka berjuang untuk masa depan yang lebih cerah.

Terakhir, novel ini memiliki pesan kepada pembaca bahwa kemiskinan bukan berarti menghentikan mimpi besar. Selain itu, lewat novel Sang Pemimpi, Andrea Hirata ingin berpesan bahwa anak muda harus bermimpi besar, sebab di usia muda adalah kesempatan untuk jatuh bangun sampai mengerti apa itu masa depan.

banner 336x280
Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles
Opini dan Sastra

Hutan dan Adat Orang Sumba dalam Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam

 Sebuah Catatan dari  Novel Karya Dian Purnomo Setiap daerah yang memiliki adat...

Opini dan Sastra

Pendidikan di Kabupaten Halmahera Selatan: Kehadiran Daerah dalam Menjawab Tantangan Wilayah Kepulauan

  Oleh: Ikram M.Zen ASN di Kabupaten Halmahera Selatan Halmahera Selatan merupakan...

Opini dan Sastra

Mencegah Child Grooming Lewat Buku Memoar Broken Strings Karya Aurelie Moeremans

Oleh: Apdoni Tukang Penulis adalah Aktivis Pers Mahasiswa Membaca memoar Broken Strings...

HeadlineOpini dan Sastra

Krisis Konservasi di Titik Kritis, Ancaman Kepunahan Kuskus Matabiru

 “Alam tidak akan Menunggu Keraguan Negera untuk Bertindak.” Kuskus  Matabiru (Phalanger Mata...