
Penulis: Jhuan Jalalai
Mahasiswa Teknik Pertambangan, UMMU
Dialektika dalam forum ilmiah adalah makanan paling segar yang dikonsumsi oleh kaum pelajar atau intelektual. Merupakan satu konstruk berpikir kritis yang dituangkan melalui argumentasi yang diterapkan dalam forum ilmiah. Dalam hal ini, sering dipakai dalam berdiskusi dan bahkan berdebat, dengan tujuan untuk mencari kebenaran lewat argumentasi yang saling bertentangan.
Karena itu, menjadi satu hal yang dipakai untuk melahirkan satu cara pandang baru atau menguji satu teori yang sudah menjadi pemahaman yang perlu diuji kebenarannya. Maka dari sinilah, dialektika ini perlu dirawat, bahkan harus dijadikan sebagai budaya.
Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah dialektika sudah tidak lagi diperhatikan oleh kaum intelektual karena sudah disibukkan oleh agenda-agenda seremonial yang bersifat merugikan individu bahkan kelompok.
Akar permasalahan hilangnya aktivitas berdialektika adalah karena mulai menghilangnya kesadaran akan pentingnya berdialektika. Ini dipengaruhi oleh lingkungan yang memraktikkan aktivitas yang tidak menguntungkan bagi personal bahkan kelompok, yang terus dipraktikkan bagi kaum intelektual atau pelajar sehingga mereka lupa bahwa berdialektika adalah hal yang perlu diterapkan, agar kaum intelektual atau pelajar bisa melahirkan ilmu pengetahuan baru, bahkan melakukan satu tindakan yang mampu mengubah pola pikir kelompok masyarakat.
Mengapa penting bagi pelajar dan kaum intelektual tetap menjalankan aktivitas berdialektika?
Karena dua status sosial inilah yang mampu memecahkan persoalan-persoalan yang kemudian menjadi indikator ketidakmajuan masyarakat saat ini, akibat dari hegemoni yang merugikan bagi kelompok masyarakat tersebut.
Di sisi lain, kita tidak bisa melupakan bahwa asal mula munculnya istilah dialektika adalah dari dunia pendidikan, terlebih khususnya pendidikan di masa Yunani kuno atau ruangan kelas di Yunani kuno pada 2.500 tahun lalu. Karena tujuan dari pendidikan di masa itu adalah untuk melahirkan pandangan yang kritis dan produktivitas, bahkan menguji ilmu pengetahuan baru yang diuji di dunia pendidikan akan kebenaran dari pengetahuan tersebut.
Namun, kalau kita coba melihat di saat ini, dari pendidikan ini juga mengakibatkan hilangnya aktivitas berdialektika. Ini diakibatkan karena pendidikan saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Artinya, pendidikan saat ini hanya mengarahkan pelajar untuk mengembangkan skills dan kemampuan, sehingga skills dan kemampuan yang dimilikinya bisa dijual di dunia kerja yang sifatnya tenaga kerja murah.
Akibat dari hilangnya orientasi pendidikan yang sesungguhnya, para pelajar bahkan kaum intelektual sudah tidak lagi mengadakan forum-forum ilmiah untuk berdialektika. Melainkan, mereka hanya mementingkan agenda-agenda yang bersifat seremonial dan aktivitas yang tidak membangun konstruksi berpikir kritis.
Contoh yang sering kita lihat di saat ini adalah kaum pelajar atau intelektual yang berada di jenjang sekolah bahkan di jenjang perguruan tinggi, mereka hanya mengutamakan nilai rapor bagus bagi yang sekolah, dan bagi yang kuliah mereka hanya mengutamakan IPK yang tinggi. Tapi di balik IPK yang tinggi, ada rasa takut akan perbedaan pendapat. Ini diakibatkan karena hilangnya kekritisan berpikir dalam sekolah bahkan kampus, dan ini juga mengakibatkan hilangnya aktivitas berdialektika.
Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya terhadap pelajar atau kaum intelektual saat ini, karena ini akibat dari sistem pendidikan saat ini yang hilang sepenuhnya dari orientasi pendidikan yang sesungguhnya.
Hilangnya orientasi pendidikan inilah yang mengakibatkan kaum pelajar atau kaum intelektual sudah tidak lagi mengutamakan bahwa tujuan berpendidikan adalah untuk mengasah pola pikir yang kritis dan produktif, melainkan hanya mengutamakan nilai rapor yang bagus atau nilai IPK yang tinggi. Namun di balik dua hal tadi, ada ketidak kritisan dalam proses berpikir dan ketidakaktifan dalam berdialektika.
Poin penegasan dari saya bahwa negara ini berdiri atas dasar dialektika yang panjang, yang didialektikakan oleh para pendiri bangsa ini. Maka kita sebagai masyarakat pelajar bahkan masyarakat intelektual, jangan pernah sekalipun menghilangkan budaya berdialektika. Karena berdialektika adalah bagian dari budaya ilmiah yang mampu membentuk cara berpikir kritis bagi kita.(*)
Komentar