Home Headline Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita  Alam yang Indah hingga Ancaman Perburuan Satwa Liar   
HeadlineKota Ternate

Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita  Alam yang Indah hingga Ancaman Perburuan Satwa Liar   

Bagikan
Bagikan

Penulis: Safri Rusdi/Wartawan Halmaherapedia.com 

Rimbun pepohonan  dan suara burung dari kejauhan terdengar begitu menghipnotis. Laut biru yang yang terhampar luas dari punggung Danau Tolire, menyambut   hangat peserta pelatihan Jurnalisme Lingkungan yang digelar LSM Burung Indonesia bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Sabtu pagi hingga siang (25/7/2026).

Kawasan yang  lebih dikenal dengan Pulo Tareba di Kelurahan Takome, kecamatan Ternate Barat itu, dipilih panitia  karena berbagai kelebihan di dalamnya. Saat memasuki kawasan Pulo Tareba, di pintu gerbang disambut papan nama tertulis   “Pulo Tareba (Conservation and Camping Ground)”

Tak jauh dari situ ada spanduk bergambar satwa endemik seperti burung, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (Cacatua Alba) dan beberapa satwa endemik lainnya. Ada juga area camping  menghadap langsung  Danau Tolire dari ketinggian yang menakjubkan.

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist

Air laut terlihat seperti lukisan alam yang indah, dengan latar hijaunya danau Tolire. Lokasinya di lereng Gunung Gamalama  di sisi Danau Tolire menjadikan Pulo Tareba  cocok  untuk wisata alam.

Saat  di Pulo Tareba,   bertemu  teman pelatihan  dan ikut  diskusi bersama terkait  Pulo Tareba  dan  kondisinya saat ini.

Jandi [21 tahun]  juga  peserta pelatihan menjelaskan, Pulo Tareba menjadi lokasi wisata yang memiliki keindahan yang unik. Sudah dua kali  mengunjungi Tareba dan mendapat informasi tentang Tareba dari media sosial.

“Tempat ini sangat menenangkan, bisa mendengar suara satwa.Karena bagusnya mengunjung Tareba sudah berulangkali ,”  ujarnya.

Dia bilang di Pulo Tareba selain punya hewan endemik juga menyaksikan pemandangan dari ketinggian. Dari lebatnya   hutan  sekunder, hijaunya danau Tolire hingga menatap hamparan laut  yang luas dari ketinggian.

Menyaksikan Pulo tareba yang berhadapan langsung dengan  tolire, itu satu kenikmatan tersendiri bagi saya,” tambahnya.

Senada   Irawan Nasri [22], yang pertama kali  mengunjungi Pulo Tareba memuji keindahan Pulo Tareba.   “Pulo Tareba adalah permata di Kota Ternate ,”ucapnya.  Pemuda asal Sagea itu,  berharap Tareba  harus seperti rumah yang harus terus dirawat.

Semoga Pulo Tareba ini, tetap terjaga, tetap lestari, dan   asri dari masalah sampah.” ucapnya.

 

Ancaman terhadap Kelestarian Kuskus Mata Biru

Pulau Ternate berdasarkan  data Badan Pusat Statistik (BPS)  luasnya kurang lebih 111,81 kilometer. Dari luasan  itu  menyimpan berbagai  satwa endemik yang   sebagiannya   kini terancam punah. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan satwa itu adalah Pulo Tareba dengan kus-kus mata biru dan berbagai jenis burung.

Menyadari keterancamannya, sebagian pemuda di Ternate yang tergabung dalam Komunitas Pulo Tareba bergerak  melindugi dan   menjaga kawasan Pulo Tareba sekaligus sebagai salah satu destinasi penting pariwisata di Kota Ternate. Mereka menyadari bahwa  satwa endemik seperti kuskus mata biru (Phallger mata biru).  menjadi sasaran pemburu untuk di makan.  Padahal kus-kus jenis ini telah dilindungi.

Di Indonesia ada beberapa jenis kuskus telah dilindungi dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Meskipun sudah dilindungi,  keberadaanya   makin terancam akibat  perburuan dan  pembangunan pemukiman  yang menyasar kawasan  hidup satwa ini.

Keberadaan satwa nokturnal ini  makin langka karena perburuan yang massif.   Akhir Desember 2025 empat  warga asal Halmahera Barat (Halbar)  berburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan   di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate.

Gambar jenis-jenis burung khas Maluku Utara di Pulo Tareba. Foto-peserta-Pelatihan-Jurnalime-Lingkungan

Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku,   Desember 2025 lalu  ada  18 ekor dan satu kadal air (soa soa layar,red)  ditembak para pemburu.

Perburuan satwa endemik ini sudah  tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Perburuan   terbanyak terjadi 2025 lalu.

Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah   berulang kali. Sayang belum ada sikap tegas  Pemerintah Kota (Pemkot)  mendorong  Perda perlindungan satwa endemic ini. Sebelumnya para aktivis lingkungan juga telah menggelar  aksi, mendesak walikota segera membuat regulasi  melindungi  Kuskus Matabiru.Hanya saja sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya.

Sepanjang  2024, tercatat  10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Januari 2024, warga mengamankan  lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.

Kasus terakhir Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat   yang sedang menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.(*)

 

 

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Halmahera UtaraHeadline

Warga Waringi Lelewi Tagih  Janji PT NHM

Terkait Status Penggusuran Kebun Cengkeh Halmaherapedia---Warga Desa Warilelewi Kecamatan Kao Kabupaten Halmahera...

DaerahHeadline

Pemprov Buat Konsultasi Publik Perkada Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Halmaherapedia–Pemerintah Provinsi Maluku Utara resmi menggelar agenda Konsultasi Publik Penyusunan Peraturan Kepala...

HeadlinePolmas

Kampus Hijau: Ketika Protes Dianggap Ancaman

Oleh: Safri Rusdi Masyarakat umum melihat kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN)...

DaerahHeadline

Tindaklanjut Temuan BPK, Taliabu Terendah, Tidore Tertinggi   

Halmaherapedia- Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Maluku Utara menggelar Kegiatan Pemantauan Tindak...