Home Daerah Halmahera Tengah Tetap Suarakan Penolakan Tambang Nikel Saat Peringati HATAM
Halmahera TengahHeadline

Tetap Suarakan Penolakan Tambang Nikel Saat Peringati HATAM

Bagikan
Bagikan

Save Sagea   dan  Warga  Lelilef  Woebulen Gelar Aksi

Halmaherapedia– Memperingati Hari Anti Tambang (HATAM)  28 Mei 2026, Aktivis Save Sagea  bersama warga Lelilef Woebulen menggelar aksi di beberapa lokasi di teluk Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, Kamis (28/5/2026).

Aksi ini digelar mulai dari Puncak Kawinet di Desa Sagea yang lokasinya tidak jauh dari  PT Mining Abadi Indonesia (MAI), kontraktor PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia—hingga pesisir Desa Lelilef, pesisir Desa Gemaf, Jembatan Sungai Ake Kobe, Bukit Dua Jari di Lokulamo, serta jalan utama di sekitar kawasan industri nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Tekindo.

Aksi juga digelar di dekat kantor Tsingshan Tower yang berada di dalam kawasan industri nikel Weda Bay.

Rifya Rusdi,  aktivis  Save Sagea dalam aksi itu  mengungkapkan bahwa, kerusakan akibat aktivitas perusahaan telah membawa dampak buruk bagi warga sekitar seperti debu industri yang langsung masuk ke lingkungan masyarakat sekitar. Dampak industri nikel juga mengakibatkan air warga  tercemar dan masyarakat kehilangan kebun.

“Kerusakan ini bukan lagi ancaman yang  nyata dalam realitas  hidup sehari-hari. Debu industri, atap-atap rumah yang hancur karena korosi, pencemaran air, banjir lumpur, hilangnya kebun, rusaknya sungai, serta air sumur   tidak lagi layak konsumsi menjadi bagian dari kehidupan,” jelas Rifya .

Dia lantas menyoroti  banyaknya kasus yang menimpa warga di lingkar tambang, mulai dari penyakit pernapasan dan warga terpapar zat berbahaya.

“Dalam banyak kasus, warga juga menghadapi meningkatnya gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan serta paparan zat berbahaya seperti merkuri dan arsenik,” ujarnya.

Dia bilang aksi yang dilakukan bersama warga itu, merupakan bentuk penolakan terhadap perusahaan yang menjadikan Teluk Weda sebagai lokasi industri baterai kendaraan listrik global.

“Kami menolak menjadikan Teluk Weda sebagai zona pengorbanan demi kebutuhan industri baterai kendaraan listrik global, ” tegas Rifya.

Bersama  warga mereka menolak adanya aktivitas tambang di wilayah tersebut, karena menimbulkan masalah bagi warga sekitar.

“Kami juga menolak masa depan yang dibangun di atas kehancuran ruang hidup masyarakat pesisir, petani, perempuan, nelayan, dan Masyarakat Adat di Halmahera Tengah” pungkasnya.(mg1)

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Halmahera UtaraHeadline

Sebagian Warga Halmahera Utara Mulai Kesulitan Air Bersih

Halmaherapedia– Dampak kemarau benar-benar mengancam kelangsungan hidup warga. Di  beberapa desa  di...

HeadlineNasionalPolmas

Ini Masukan RUU Masyarakat Adat dari Para Pihak  kepada Baleg DPR  

Halmaherapedia--Badan Legislasi DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), dihadiri oleh...

DaerahHeadline

Hujan Datang Bertahap, BMKG Prediksikan Mulai Akhir Oktober

 Kebakaran Hutan dan Lahan Masih Terjadi di Sejumlah Tempat Halmaherapedia—Kemarau panjang belum...

Halmahera UtaraHeadline

Jembatan Penghubung Leleseng–Sangaji Jaya Kao Barat Rusak Parah

Halmaherapedia--- Masyarakat Desa Leleseng Kecamatan Kao Halmahera Utara (Halut) keluhkan rusaknya jembatan...