Ternate Maluku Utara masuk dalam salah satu kota di Indonesia, yang jadi sasaran proyek Recording the Future (RtF). Ini adalah sebuah proyek jangka panjang dari KITLV (Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia) yang bekerja sama dengan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRMB – BRIN). Kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun 2003 lalu.Tim RtF sendiri merekam keseharian warga Ternate setiap 4 tahun sekali.
Perlu diketahui bahwa KITLV adalah, sebuah lembaga yang berdiri dari 1851. Di Indonesia, juga ada di Jakarta walaupun saat ini telah diambil alih oleh Universitas Leiden pada 2014.
“Tugas dan peran KITLV punya tiga misi penting.Yaitu pengembangan dan pengelolaan koleksi, penelitian dan penerbitan karya akademis,”jelas Koordinator Proyek RtF Ireen Hoogenboom.

Dijelaskan, proyek ini bertujuan untuk menciptakan arsip audiovisual kehidupan sehari- hari di Indonesia selama abad ke-21 yang dapat digunakan untuk penelitian, pengajaran, film dokumenter, karya artistik dan sebagainya.
“Rekaman dibuat setiap empat tahun sekali di: Jakarta, Delanggu (Jawa Tengah), Payakumbuh (Sumatera Barat), Kawal (di pulau Bintan), Sintang (Kalimantan Barat), Bittuang (Tana Toraja di Sulawesi), Ternate, dan Surabaya,” jelasnya di Ternate Senin (18/5/2025).
Menurutnya, lokasi-lokasi yang sama dikunjungi kembali selama 4 tahun, mengalami perubahan visual, kesinambungan lanskap, dan perkembangan masyarakat dapat ditelusuri dan dibandingkan dari waktu ke waktu.
“Arsip ini terdiri dari rekaman masyarakat dan bagaimana mereka membentuk lingkungan mereka,”katanya.
Baik itu pekerjaan, perumahan, waktu luang, pendidikan, kesehatan, politik, pemerintahan, infrastruktur, pembangunan kota, mobilitas, budaya, agama, dan lain-lain.
Sejauh ini, arsip RtF sudah kurang lebih sekitar 700 jam rekaman, yang telah diindeks dan dapat diakses untuk penelitian.
Untuk merekam Ternate, sudah dilakukan hamper sepekan melibatkan tim Filmmaker. Tim ini masing -masing Shuhaery Faiz dan Ratih Prebatasari dengan coordinator Ireen Hoogenboom.

Ratih yang juga Field Director RtF menjelaskan, dalam perekaman ini kegiatan di setiap kota hamper sama termasuk di Ternate. Yakni mendokumentasikan kehidupan sehari-hari warga kota Ternate.
“Tujuannya melihat perkembangan suatu tempat dan pengarsipan di masa depan untuk anak cucu. Begitu juga peneliti yang ingin meneliti apa saja kami rekam,” tambahnya.
Untuk proses kerjanya tim meletakkan kamera di titik yang sama, dari pagi pukul 5.30 WIT- hingga pukul 21.00 WIT dengan pergerakan yang sama. Setiap perekaman 30 menit, istirahat 2 jam dan berulang sampai malam.
“Selain merekam diam di satu lokasi perekaman juga dilakukan dengan jalan,”ujarnya.
Rekaman jalan ini dilakukan di rute yang sama dengan kamera dan pewawancara menemui orang di di jalan.
Ketiga, melakukan perekaman di jalan dari atas pick up dengan rute yang sama. Di sini, ada tema- tema tertentu diambil. Misalnya di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara terkait isu lingkungan dan perubahan iklim. Untuk perekamannya dilakukan pada Senin (18/5/2026) kemarin di kawasan Ake Gaale dan pantai Kelurahan Sangaji. Fokus pada problem sumber air Ternate dan dampak perubahan iklim berupa abrasi dan naiknya permukaan air laut.
“Isunya bisa apa saja, tergantung diskusi tim di lapangan,” kata Ratih.
Untuk hasil perekaman kota-kota ini, sedang disiapkan akses dalam satu link online agar bisa diakses oleh public. Data- data hasil rekaman Ternate sejak 2003 misalnya saat ini sementara disimpan di BRIN dan KITLV Leiden.
“Sudah ada lebih dari 700 jam rekaman,”tutupnya. (*)
Komentar