Home Serba-serbi Melawan karhutla dengan kolam bioflok dan pipa suntik gambut
Serba-serbi

Melawan karhutla dengan kolam bioflok dan pipa suntik gambut

Bagikan
Bagikan

 Banjarbaru, 31/8 (ANTARA)– Selama satu bulan terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus meluas di berbagai kabupaten dan kota.

Salah satu wilayah paling terdampak adalah Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan, di mana api banyak membakar ekosistem alami berupa hamparan rumput dan pohon-pohon di lahan semak belukar tanpa garapan.

Tiga wilayah menjadi langganan kebakaran lahan saat musim kemarau di Banjarbaru, yakni kawasan Guntung Damar hingga Tegal Arum yang masuk area ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Kemudian hutan lindung Liang Anggang dan wilayah Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan atau perbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut.

Celakanya, karhutla di kota ini berdampak langsung terhadap penerbangan di bandara ketika kabut asap tebal memaksa pesawat berhenti beroperasi.

Petugas gabungan dari berbagai unsur pemerintah yang dilengkapi sarana pemadaman sudah dikerahkan. Relawan pun ikut berperan dengan sumber daya seadanya.

Namun faktanya, api terus membakar lahan dan meluas dari hari ke hari.

Efektivitas penanggulangan karhutla pun banyak dipertanyakan. Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan tingkat kedalaman bervariasi.

Api tidak hanya membakar apa yang terlihat di permukaan. Bara dapat menjalar di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan sepenuhnya dari permukaan.

Artinya, persoalan pemadaman bukan semata bagaimana memburu api yang terlihat, tetapi bagaimana memastikan bara di dalam gambut benar-benar padam sekaligus membuat lahan kembali basah.

Kondisi inilah yang mendorong Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr Rosyanto Yudha Hermawan mencari cara yang lebih efektif untuk melakukan pemadaman sekaligus pembasahan lahan gambut yang terbakar.

Para ahli lintas bidang dari personel Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalsel dikumpulkannya untuk berdiskusi membahas penanggulangan karhutla.

Begitu juga para pakar di bidang lahan basah dari Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) digandengnya.

Polda Kalsel juga berkolaborasi dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang berpengalaman menggarap lahan untuk perkebunan.

Dari rangkaian diskusi dan kolaborasi tersebut kemudian muncul tiga inovasi taktis untuk pemadaman karhutla: pembuatan kolam bioflok atau kolam terpal portabel, pembuatan formula kimia khusus buatan Bidlabfor Polda Kalsel yang dicampurkan ke dalam kolam penampungan air, serta pembuatan pipa undercooling system atau pipa suntik gambut.

Ketiganya kemudian digerakkan sebagai satu sistem yang saling mendukung dalam penanggulangan karhutla di lapangan.

Kapolda menjelaskan kolam penampungan air bioflok berkapasitas 12.000 liter bertujuan mendekatkan pasokan air langsung ke titik-titik lokasi api yang jauh dari sumber air alami.

Kolam ini diisi secara estafet oleh unit truk tangki air, baik Polda Kalsel, BPBD maupun unsur lainnya.

Air yang tertampung kemudian dicampur dengan cairan zat pemadam khusus buatan Bidlabfor guna meningkatkan daya padam air di lahan gambut.

Air campuran tersebut kemudian disedot dan dialirkan menggunakan pipa undercooling system yang ditancapkan menembus kedalaman tanah gambut hingga 2 meter.

Semprotan air bertekanan tinggi menyiram sekaligus mendinginkan pusat bara api di bawah tanah, sehingga api dapat dipadamkan dan tidak kembali muncul ke permukaan.

“Zat ini memperkuat daya serap air, meredam panas, serta meningkatkan efektivitas pemadaman pada serat gambut yang kering,” kata Rosyanto.

Cairan pemadam tersebut dikembangkan Bidlabfor Polda Kalsel dari bahan dasar minyak nabati (MES).

Hasilnya, dalam hitungan detik setelah penyuntikan, suhu area gambut yang membara langsung dingin dan hembusan asap berhasil dihentikan.

Hasil uji coba selama empat hari pada 27–30 Agustus 2026 di lahan terbakar pada tiga wilayah prioritas penanggulangan karhutla di Banjarbaru menunjukkan penurunan suhu tanah secara signifikan.

Area sekitar radius 5 meter dari titik suntik menjadi dingin dan sumber api bawah tanah benar-benar padam.

Hasil uji coba itu kemudian menjadi dasar untuk memperluas penggunaan metode tersebut di lapangan.

Kapolda meminta Bidlabfor terus memperbanyak produksi cairan khusus itu agar bisa dibagikan kepada petugas di lapangan untuk pemadaman dan pembasahan lahan gambut.

Saat ini sudah 12 kolam bioflok terbangun dan 50 pipa suntik gambut diproduksi secara simultan dan akan terus ditambah sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, Polda Kalsel juga menyiagakan 350 personel gabungan TNI-Polri, BPBD dan unsur lainnya, termasuk bantuan relawan untuk patroli dan pemadaman.

Kekuatan itu didukung 14 unit truk tangki dan 54 pompa portabel.

Seluruh pengerahan kekuatan personel dan sarpras itu rencananya berlangsung hingga 8 September 2026 mendatang serta akan dievaluasi sejalan dengan kondisi terkini.

Dari langkah penegakan hukum, jajaran Polda Kalsel telah menetapkan lima tersangka yang patut diduga sebagai pelaku pembakar lahan. Puluhan orang masih dimintai keterangan atas beberapa lokasi karhutla, termasuk sejumlah pihak korporasi.

Wamenko Pangan usulkan 144 kolam bioflok

Jika metode tersebut terbukti efektif di lapangan, persoalan berikutnya adalah bagaimana menyediakan sumber air dalam jumlah cukup dan mendekatkannya ke kawasan rawan terbakar.

Inovasi penyediaan kolam bioflok oleh kapolda ini disambut positif Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq selaku koordinator penanggulangan karhutla di Kalsel.

Bahkan Hanif mengusulkan penyediaan 144 kolam portabel untuk mencakup area seluas 900 hektare lahan kosong di Pengayuan yang rawan terbakar.

Kemudian untuk sumber air bawah tanah, kata Hanif, Gubernur Kalsel Muhidin telah memerintahkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuat sumur bor di kedalaman 40 meter.

Berdasarkan alat geolistrik, terdeteksi potensi lapisan akuifer atau batuan pembawa air berada di titik tersebut.

Namun, penyediaan air dan pemadaman api hanya menyelesaikan persoalan ketika kebakaran terjadi. Karhutla yang terus berulang setiap musim kemarau membutuhkan solusi yang lebih permanen.

Hanif menekankan pentingnya membangun sistem pengelolaan air yang mampu menjaga lahan gambut tetap basah.

Menenggelamkan lahan gambut menjadi metode alami untuk mencegah lahan basah itu mudah terbakar saat kering.

Seluruh kesatuan sistem pengelolaan air harus berjalan secara utuh agar ketika kemarau sumber air di irigasi bisa dialirkan ke lahan-lahan gambut dan saat hujan mencegah banjir dengan drainase untuk membuang kelebihan air.

Selamatkan gambut untuk kemaslahatan

Persoalan menjaga lahan gambut tetap basah pada akhirnya tidak hanya menyangkut teknik pemadaman, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan ekosistem gambut.

Guru Besar bidang Ilmu Tanah/Biogeokimia Tanah ULM Prof Dr Ir Ahmad Kurnain MSc menjadi salah satu sosok yang digandeng kapolda mencari solusi penanggulangan karhutla.

Dia mengatakan kemampuan gambut dalam menyerap air mempunyai arti penting bagi pengelolaan lahan gambut itu sendiri.

Karena kemampuannya yang sangat besar ini, lahan gambut mempunyai fungsi hidrologi yang sangat vital bagi lingkungan.

Lahan gambut alamiah dengan karakter hidrologinya yang selalu basah dan tergenang perlu terus dijaga.

Oleh karena itu, restorasi atau pemulihan lahan gambut yang telah rusak akibat kebakaran, termasuk alih fungsi, harus dilakukan.

Berdasarkan data Badan Restorasi Gambut, luas lahan gambut di Kalimantan Selatan mencapai 106.000 hektare.

Restorasi kawasan lahan gambut ditarget seluas 35.000 hektare dari total 58.342 hektare lahan gambut yang mengalami kerusakan akibat kebakaran lahan dan alih fungsi.

Prof Ahmad Kurnain menyampaikan semua pihak harus belajar dari kerusakan lahan gambut agar perencanaan pembangunan kawasan di masa depan berdasarkan gagasan kebijakan strategis yang holistik dengan ciri terpadu, antisipatif, adaptif, lentur, dan optimisasi.

Dia menjelaskan secara alamiah gambut memang harus dijaga tinggi muka airnya agar pemicu bahan bakar berupa tanaman dan sisanya di atas permukaan lahan tetap basah.

Ketika ketinggian air melampaui 40 sampai 60 centimeter dari bawah permukaan lahan, maka bahan bakarnya bukan hanya tanaman tetapi juga tanah gambut itu sendiri di permukaan yang tekanannya lebih besar karena musim kering berkepanjangan.

“Jadi bisa alamiah atau manusia, ini faktor yang saling terkait jadi harus holistik,” jelasnya.

Terkait upaya pemadaman, harus dibedakan antara lahan gambut dan lahan mineral.

Untuk tanah mineral, karena faktor kekeringan, sumber air saat ini sangat rendah sehingga diperlukan pemanenan air dari sumur bor dan penampungan air seperti yang dilakukan Polda Kalsel.

Sementara lahan gambut mesti menggunakan mekanisme pembasahan dan revegetasi dengan pendekatan seperti menutup irigasi agar lahan tetap dikondisikan basah.

Semua itu harus menggunakan pendekatan lokal spesifik dan spasial agar efektif dan efisien.

Pakar bidang Ilmu Tanah jebolan Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mendorong adanya peraturan daerah yang mengatur hingga ke tingkat desa agar semua pihak bisa mengikuti aturan penggunaan lahan sesuai hak dan kewajibannya.

Selain pendekatan biofisik, aspek sosial dan ekonomi juga perlu diperhatikan.

Menyelamatkan lahan gambut dari karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Air, tata kelola lahan, pemulihan ekosistem, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan penegakan hukum harus berjalan bersama.

Oleh Firman
Editor : Anton Santoso

 

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Serba-serbi

RUU Perampasan Aset Buru Kekayaan Hasil Kejahatan

 Rancangan Undang- Undang (RUU) Perampasan Aset ditargetkan disahkan menjadi undang-undang pada Desember...

Menyapa NusantaraSerba-serbi

Kemenhub percepat pemulihan bandara terdampak gempa NTT

Jakarta, 01/9 (ANTARA) - Kementerian Perhubungan mempercepat pemulihan bandara terdampak gempa di...

Menyapa NusantaraSerba-serbi

78000 Peserta Selesaikan Magang Nasional.

Program magang nasioal 2025 Tahap I dan II yang diikuti 78000 peserta...

DaerahHeadlineSerba-serbi

Diduga Ada Penyalagunaan Solar Bersubsidi, Picu Protes Sopir Lintas Halmahera

Sofifi-- Ratusan sopir lintas Halmahera yang biasa melayani transportasi penumpang dan barang...