Home Opini dan Sastra Ruang Demokrasi di Kampus IAIN Ternate Dibungkam?
Opini dan Sastra

Ruang Demokrasi di Kampus IAIN Ternate Dibungkam?

Bagikan
Bagikan

Riuh tepuk tangan mahasiswa baru di  Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate Rabu (26/08/2026)  menggema, di tengah suasana Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK).  Saat itu juga Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) bersama Aliansi IAIN Ternate bergerak, hendak menyampaikan 22 Tuntutan Mahasiswa di arena tersebut.  

Mereka ingin menyampaikan berbagai isu yang terjadi di  masyarakat. Beberapa   yang disuarakan itu seperti, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), upah murah, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pembungkaman ruang demokrasi  di dalam Kampus. Sayangnya upaya  itu dihalangi pihak kampus, hingga berakhir  pembubaran.

Safril S Tolori, salah satu peserta PBAK misalnya, menilai Kampus selalu menyembunyikan masalah serius yang terjadi dalam kampus, bahkan kepada mahasiswa baru dan menghalalkan berbagai macam cara  sebagai alasan.

“Mereka katakan dalam Pengenalan Budaya Akademik Kampus bukan tempat  menyampaikan isu-isu politik. Tapi kenapa Walikota Ternate hadir dalam pembukaan PBAK pada hari pertama,”ujarnya.

Suara tepuk tangan dan sambutan mahasiswa baru dalam ruangan itu mendadak menjadi ruang perdebatan. Karena  protes itu, PBAK pada  hari ketiga, mahasiswa baru harus kembali ke  ke rumah  siang hari sekira pukul 12:00 Wit tanpa diberikan makan siang.

Pembungkaman Semakin Terlihat

Pada hari pertama  PBAK, suara tepuk tangan  di Aditorium IAIN Ternate bergemuruh  dengan hadirnya Rektor IAIN Ternate, para dosen sekuriti, dan mahasiswa, menyaksikan pembicaraan politik  oleh Bapak Walikota Kota Ternate Tauhid Soleman.

Kehadiran mereka justru menjadi alasan  mahasiswa yang tergabung dalam DEMA dan Aliansi Mahasiswa IAIN Ternate Bergerak, mengapa dalam PBAK dilarang untuk isu politik.

Bagi mereka seorang wali kota merupakan pejabat publik yang menjalankan mandat melalui proses politik. Nah, alasan   pihak kampus ini justru aneh. Di tengah  harga kebutuhan pokok yang naik, biaya pendidikan yang mahal, pembangunan, kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, hingga kebijakan publik merupakan bagian dari realitas yang tidak mungkin dipisahkan dari politik. Makanya  aneh jika mahasiswa baru dijauhkan dari isu politik.

Mahasiswa jika tidak diberikan ruang berbicara  isu politik  sebagai antitesa  dengan kondisi pemerintahan, lalu isu politik yang  sifatnya memuji harus diberikan ruang seperti  saat kehadiran  Walikota Kota Ternate.

Safril juga mengaku diancam tidak akan memberikan sertifikat PBAK, jika  tetap melawan.

“Kami juga diancam  WAREK III  IAIN Ternate bahwa kalau kami masih melawan maka sertifikat PBAK  tidak diberikan, atau kami tidak mendapat sertifikat PBAK” ujarnya.

Kampus Miskin Literasi

Persoalan yang terjadi dalam kampus menjadi sorotan oleh Ketua Dema Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Ternate, Kadir Ikram: menjelaskan menurunnya budaya literasi dalam kampus justru tidak terlepas dari  pembungkaman yang dilakukan  pihak kampus terhadap mahasiswa nya.

Baginya, kehidupan kampus seharusnya diramaikan dengan  literasi berupa lapak baca, mimbar bebas dan aksi untuk mengawal berbagai macam isu yang berkembang dalam kampus maupun yang terjadi di  masyarakat.

“Karena itu, kampus harusnya memberikan keleluasan pada organisasi kemahasiswaan, baik internal maupun eksternal, agar mereka membangun kembali tradisi membaca, berdiskusi, mengkaji persoalan yang terjadi dan membentuk keberanian berpikir”

“Mahasiswa yang memiliki pengetahuan, terbiasa berdiskusi serta mampu menguji gagasan seharusnya tidak takut menyampaikan kritik”.

Maka, ketika mahasiswa mencoba membawa persoalan masyarakat ke ruang kampus, hal itu semestinya tidak langsung dilihat sebagai gangguan.  Bisa jadi,  itu salah satu bentuk proses belajar yang selama ini digaungkan  perguruan tinggi.(*)

Penulis: Safri Rusdi, Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate 

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Opini dan Sastra

Di Balik Ledakan Nikel Maluku Utara, Perempuan Menanggung Krisis

  Penulis: Susi H. Bangsa Aktivis Pers Mahasiswa Selama lima tahun terakhir,...

Opini dan Sastra

Maluku Utara: Antara Pertumbuhan Ekonomi yang Melangit dan Harapan Kesejahteraan Rakyat  

Oleh: Ruslan Taher Sangadji  Diaspora Ternate di Bogor dan  Wakil Sekjend MN...

HeadlineOpini dan Sastra

Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim  

Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy (Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB...

Opini dan Sastra

Hilangnya Aktivitas Berdialektika

    Penulis: Jhuan Jalalai Mahasiswa Teknik Pertambangan, UMMU Dialektika dalam forum...