Halmaherapedia— Angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara pada triwulan II-2026 cukup luar biasa. Pertumbuhan tersebut mencatatkan angka impresif 15,35 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Ternyata penyumbang pertumbuhan ekonomi luar biasa itu, bukan dari sektor yang dikelola masyarakat umum seperti perikanan dan pertanian. Ternyata tingginya pertumbuhan tersebut masih didominasi sektor pertambangan. Karena itu angka pertumbuhan ekonomi ini belum sepenuhnya dirasakan merata melalui sektor riil, seperti pertanian, perikanan, dan UMKM.
Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah produk- produk lokal, khususnya hasil pertanian dan perikanan, dapat masuk ke pasar ritel modern serta memiliki rantai pasok yang jelas. Dia bilang berbagai produk pertanian maupun perikanan serta dari UKM dari warga lokal belum menjadi pemain tetapi menjadi penonton di rumah sendiri.
“Kita ingin produk UMKM tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi bisa masuk ke jaringan minimarket, supermarket, bahkan menembus pasar ekspor sebagaimana beberapa UMKM binaan yang kini telah menjalin komitmen di luar negeri seperti Australia, Jerman, dan Belanda,” ungkapnya.
Wagub menyoroti hal ini dalam perhelatan Festival Salawaku 2026 di Benteng Oranje, Ternate. Dia bilang Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara berkomitmen menjadikan penguatan UMKM sebagai motor penggerak pemerataan ekonomi kerakyatan.
Dari sisi pembiayaan dan digitalisasi, Bank Indonesia terus memperluas akseptasi pembayaran nontunai melalui QRIS guna membangun tata kelola usaha UMKM yang lebih transparan dan efisien.
Kepala Perwakilan BI Malut, Handi Susila, menyebutkan dari total sekitar 194 ribu UMKM di Maluku Utara yang mayoritas berada di sektor pertanian dan perikanan, akses pembiayaan dan perluasan pasar digital masih menjadi fokus utama pendampingan.
Melalui program temu bisnis (business matching), pelatihan hilirisasi pangan, dan fasilitasi pemasaran yang dihadirkan dalam Festival Salawaku 2026, diharapkan para pelaku UMKM lokal adaptif, profesional, dan mampu mendongkrak porsi kredit UMKM yang saat ini masih berada di angka 12,17 persen menuju target nasional. (aji)
Komentar