Halmaherapedia– Pertambangan nikel di wilayah pesisir, terutama di Teluk Buli Halmahera Timur, menimbulkan dampak cukup serius. Dr Meutia Ismet, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University menyampaikan bahwa, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat termasuk keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.
Dikutip dari https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/06/ahli-ipb-dampak-tambang-nikel-di-halmahera-tak-hanya-ancam-laut-tapi-kesehatan-dan-ekonomi-masyarakat/) Meutia menjelaskan, salah satu dampak paling mudah diamati adalah meningkatnya kekeruhan dan perubahan warna pada perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.
“Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan,”jelasnya.
Dia bilang, kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis, dan juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dari daratan yg terdekomposisi. .
Dijelaskan, peningkatan sedimentasi di perairan dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.
“Dalam jangka panjang, menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan atau coral bleaching, hingga kematian,” kata Dr Meutia.

Menurutnya kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.
Selain sedimentasi, Dr Meutia mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan nikel berpotensi meningkatkan kandungan logam berat seperti nikel, besi, mangan, dan kadmium di perairan. Logam-logam itu dapat terakumulasi pada organisme laut dan mengalami biomagnifikasi dalam rantai makanan, sehingga berisiko mengganggu kesehatan manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.
“Dalam jangka panjang, logam berat yang terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan kronis, mulai dari penyakit kulit, gangguan saraf, penurunan fungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker,” jelasnya.
Risiko ini akan menjadi besar apabila masyarakat pesisir mengandalkan hasil tangkapan dari perairan yang telah terkontaminasi.
Terkait kondisi di Teluk Buli, Halmahera Timur, Dr Meutia menekankan pentingnya pemantauan kualitas air, sedimentasi, dan kandungan logam berat secara berkala untuk memastikan dampak aktivitas pertambangan terhadap lingkungan perairan.
Yang perlu dilakukan meliputi evaluasi pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), penguatan pengendalian sedimentasi, revegetasi lahan terbuka, serta perlindungan bagi masyarakat terdampak melalui dukungan ekonomi, layanan kesehatan, dan akses air bersih.
“Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber masalah di daratan agar manfaatnya dapat dirasakan ekosistem maupun masyarakat,” tutupnya.(aji)
Komentar