Home Nasional Pemda Wajib Waspadai Kenaikan Harga Bapok
Nasional

Pemda Wajib Waspadai Kenaikan Harga Bapok

Bagikan
Bawang, rica dan tomat, salah satu penyumbang angka inflasi,foto Pixabay
Bagikan

Halmaherapedia—  Pertumbuhan ekonomi  di Maluku Utara    mencatatkan  tertinggi secara nasional yakni sebesar 32 persen. Bagi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)  pertumbuhan ekonomi in menjadi indikator utama  menilai kemajuan suatu wilayah.

“Kalau minus kemunduran, kalau dia plus kemajuan,” kata Mendagri   Tito Karnavian di Jakarta Selasa (12/8/2025) lalu. Ia menyebut, Provinsi Maluku Utara (Malut) mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 32 persen, diikuti Provinsi Sulawesi Tengah, Kepulauan Riau, dan Bali. Sebaliknya, Provinsi Papua Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Papua Barat mencatat pertumbuhan ekonominya minus.

Pada tingkat kabupaten, pertumbuhan tertinggi terjadi di Penajam Paser Utara, Teluk Bintuni, dan Halmahera Selatan. Sementara itu, beberapa daerah tercatat pertumbuhan ekonominya minus, seperti Kota Bontang minus 2,51 persen, Kota Pangkal Pinang minus 2,3 persen, Kabupaten Kepulauan Anambas minus 5,67 persen, dan Kabupaten Natuna minus 3,57 persen.

“Kita memiliki semua datanya lengkap dan yang minus pun kita tahu, kabupaten-kabupatennya, termasuk kota-kotanya,” ujar Mendagri.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Kemendagri telah merumuskan sembilan langkah yang dapat diadopsi oleh Pemda.

Mendagri turut mengingatkan  pemerintah daerah (Pemda) untuk mewaspadai kenaikan harga pangan, khususnya komoditas primer yang berpotensi memicu inflasi. Dia menggambarkan  Inflasi nasional pada Juli 2025 secara year on year(yoy) tercatat sebesar 2,37 persen, dengan inflasi bulanan 0,3 persen. Angka ini naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 1,87 persen, namun masih berada dalam kisaran ideal antara 1,5 hingga 3,5 persen.

“Paling rendah 1,5, paling tinggi 3,5 itu yang ideal. Ideal bagi menyenangkan produsen, petani, nelayan, pabrik-pabrik, menyenangkan juga konsumen, masyarakat umum,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 3,75 persen, dengan andil terbesar sebesar 1,08 persen. Beberapa komoditas yang menjadi perhatian antara lain beras, bawang merah, cabai merah, dan telur ayam ras.

“Artinya, kita harus hati-hati, bahwa makanan minuman menyumbang andil kenaikan inflasi [cukup signifikan], dari 1,87 persen ke angka 2,37 persen,” tegasnya.

Menurutnya,  Kemendagri memiliki desk khusus yang memantau laporan pengendalian inflasi daerah melalui jalur inspektorat. Beberapa daerah telah melaksanakan langkah pengendalian, namun ada pula yang belum mengambil tindakan. “Kalau belum dilakukan apa-apa ya kita akan turun ke sana,” ujar Mendagri.

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
Nasional

Saatnya Perkuat Geopolitik Kelautan dan Kemandirian Bangsa

Halmaherapedia---  Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global dan perebutan sumber daya kelautan,...

Nasional

Anggota TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi di Benteng Oranje

Halmaherapedia--- Kegiatan  nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada,...

HeadlineNasional

Muhammadiyah Luncurkan Pesantren Eco Saintek

BOGOR-- Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah resmi diluncurkan melalui agenda Grand Launching yang diselenggarakan...

HeadlineNasional

Pembelian Pertalite dan Solar akan Dibatasi

Halmaherapedia.com--  BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi) mengeluarkan  kebijakan...