Home Headline Dari Nobar dan Diskusi Dokumenter Sisupu Wonge
HeadlineSejarah dan Budaya

Dari Nobar dan Diskusi Dokumenter Sisupu Wonge

Bagikan
Foto bersama kru film dokumenter bersama sanggar Tomahotu Tubo,foto, Doni
Bagikan

Upaya Memperkenalkan dan Kembalikan Budaya Lokal Ternate

Ternate– Sanggar Tomahotu Tubo menyelenggarakan nonton  bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Sisupu Wonge bersama masyarakat Tobu. Dokumenter ini  ditayangkan di Bioskop Jatiland Mall Kota Ternate, pada Senin (4/5/2026). Film yang tayang pada 2025 ini, sudah menerima 2 penghargaan yakni terbaik 3 kategori umum festival dokumenter budi luhur 2025, dan official selection 2025.

Dalam  kegiatan nonton bareng dan diskusi tersebut dihadiri juga  produser film dokumenter Sisupu Wonge Siti Rodiah bersama Sutradara dokumenter Gilang Akbar. Selain itu ada seniman Wonge- wonge Aswad Minggu dan talent dokumenter Nurhalima Aswad, sekaligus mengisi diskusi film.

Sutradara dokumenter Gilang Akbar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan pemutaran dokumenter ini selain memperkenalkan budaya Maluku Utara bagi anak muda, tapi juga memulangkan budaya wonge-wonge kepada masyarakat Kota Ternate khususnya masyarakat Tubo.

“Ini upaya  memulangkan Sisupu Wonge ke kampungnya,” ujarnya.

Gilang juga menuturkan bahwa  wonge-wonge merupakan tradisi yang kuat, dan menjadi  khas Ternate.

“Saya yakin bahwa  tradisi wonge-wonge ini   khas Ternate. Atau Maluku Utara yang sangat kuat,”katanya lagi.

Dia lantas  cerita proses buatan Sisupu Wonge, yang dikerjakan  selama 10 hari, dengan mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir.

“Ini adalah dokumenter pertama yang mengangkat wonge- wonge,”jelasnya

Wonge-wonge sendiri  adalah  tradisi pengobatan tradisional yang dilakukan denga media memanggil jin, atau arwah leluhur. Biasanya pengobatan ini dilakukan jika memang sudah dianggap  pengobatan medis tidak bisa menyembuhkan. Selian itu tradisi ini sebagai aktivitas pengobatan masyarakat lokal (Ternate) saat ada orang yang dipercaya terkena guna-guna. Ketika itu ritual wonge-wonge ini dilakukan untuk penyembuhan.

Sementara produser film   Siti Rodiah  mengungkapkan bahwa, tujuan pembuatan film dokumenter ini adalah sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Kita ikut serta melestarikan budaya, dan melakukan perbendaharaan karya dokumentasi khususnya wonge-wonge, supaya nanti tidak punah seiring berjalannya waktu,” jelas Rodiah.

Dia juga  bilang  tradisi wonge-wonge di kota Ternate   sudah tidak lagi dilestarikan. Sehingga dokumenter ini penting dibuat  sebagai bentuk dokumentasi budaya.

“Di Ternate  masyarakat  mulai   semakin modern, semakin logis kemudian ada perubahan pola pikir,” ungkapnya.

Karena itu dia  berharap kepada anak muda Malut, dalam menyikapi perubahan zaman,   harus meningkatkan  wawasan, memperluas jaringan dan tak kalah penting  tetap memperhatikan budaya di masing-masing daerah.

“Kita harus punya wawasan  dan  jaringan yang luas, tapi  tetap memelihara kekayaan budya  di daerah kita masing-masing,” pungkasnya. (mg1)

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
HeadlineNasional

Muhammadiyah Luncurkan Pesantren Eco Saintek

BOGOR-- Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah resmi diluncurkan melalui agenda Grand Launching yang diselenggarakan...

HeadlinePeristiwa

90 Dosen Unkhair Terima Satyalancana Karya Satya dari Presiden

TERNATE-- Aparatur Sipil Negera (ASN)    di lingkup Universitas Khairun Ternate menerima Satyalancana...

HeadlinePolmas

Peringati May Day dan Press Freedom Day, AJI Ternate Soroti Ancaman Kebebasan Pers

Ternate— Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026  bertepatan dengan momentum Hari...

DaerahHalmahera SelatanHeadline

Abrasi Parah,  Pesisir  Pulau Lelei  Hilang Puluhan Meter

Jalan, Rumah  dan  Sekolah Terancam LELEI--- Kenaikan permukaan air laut diikuti limpasan...