- Oleh Ilham Nugraha
“Namun di balik semua angka, teknologi, dan kebijakan, inti dari cerita ini tetap sederhana, bahwa di sebuah sudut Kota Cimahi, ada sekelompok orang yang memilih melihat sampah bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal”.
Cimahi (ANTARA) – Di balik pagar seng biru di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, ada sebuah aktivitas yang sekilas tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita besar tentang perubahan cara pandang terhadap sampah.
Di sana, tumpukan plastik bekas kemasan, label, dan bungkus makanan yang biasanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), justru menjadi bahan baku energi.
Alih-alih dibakar atau sekadar dipilah, plastik-plastik tersebut diolah melalui proses yang lebih lanjut hingga menghasilkan bahan bakar minyak.
Prosesnya berlangsung di dalam sebuah reaktor logam, tempat plastik dipanaskan tanpa oksigen hingga terurai. Dari situ, uap yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui sistem pendingin, sebelum akhirnya menetes perlahan menjadi cairan berwarna kekuningan. Cairan inilah yang kemudian dikenal sebagai Petasol, solar alternatif yang berasal dari sampah plastik.
Di tempat inilah, Bank Sumberdaya Sampah Induk–Melong 26 menjadi saksi bagaimana limbah yang selama ini dianggap masalah, perlahan berubah menjadi sumber daya. Tentu saja, gagasan besar itu tidak lahir dalam semalam.

Berawal dari Bank Sampah
Lionardi Sutandi, salah satu inisiator, mengisahkan bahwa semuanya berawal dari pengalaman sederhana di bank sampah. Saat itu, sebagian besar sampah masih bisa dikelola.
Kertas, botol, logam semuanya punya nilai. Namun, plastik bernilai rendah (low value) justru menjadi titik buntu.
“Kalau yang lain masih bisa dijual atau diolah, plastik low value ini tidak ada yang mau. Akhirnya sering dibakar. Dari situ kami mulai gelisah,” ujarnya.
Kegelisahan itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar: bagaimana jika sampah yang dianggap tak bernilai ini justru diubah menjadi sesuatu yang dibutuhkan?
Dari pencarian itulah mereka bertemu dengan teknologi pirolisis, yakni proses memanaskan plastik tanpa oksigen hingga struktur kimianya terurai.
Melalui langkah tersebut, rantai karbon panjang dalam plastik diputus menjadi rantai yang lebih pendek, hingga akhirnya berubah menjadi bahan bakar cair.
“Plastik itu sebenarnya berasal dari minyak bumi. Jadi kami hanya mengembalikannya ke bentuk energi lagi,” kata Lionardi.
Mengolah 75 kilogram sampah per hari
Di Cimahi, mesin generasi keenam yang mereka gunakan mampu mengolah sekitar 75 kilogram plastik per hari dengan menghasilkan sekitar 60 hingga 70 liter bahan bakar alternatif solar.
Meski skalanya masih terbatas, dampaknya mulai terasa bagi para pencari alternatif Petasol, karena dijual sekitar Rp15 ribu per liter atau lebih rendah dibanding solar non-subsidi yang mendekati Rp24 ribu per liter.
Selisih harga ini menjadi penting bagi kelompok masyarakat yang bergantung pada bahan bakar untuk bekerja setiap hari, seperti petani, nelayan, hingga pelaku usaha kecil.
“Sasaran kami memang masyarakat kecil. Mereka yang sering kesulitan akses solar,” ujar Lionardi.
Namun, pihaknya menyebut sistem yang dibangun tidak sekadar soal produksi dan penjualan karena ada skema yang lebih dalam: mereka yang ingin mendapatkan Petasol adalah mereka yang juga menyetor sampah plastik low value.

Terbentuk sebuah siklus
Sampah dikumpulkan, diolah menjadi energi, lalu energi kembali digunakan oleh masyarakat. Dari sini, persoalan sampah tidak lagi berdiri sendiri karena ia terhubung dengan ekonomi, energi, dan kebiasaan masyarakat.
Seiring berkembangnya inisiatif ini, dukungan dari berbagai pihak mulai menguat.
Pemerintah Kota Cimahi melihat bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya bergantung pada pembuangan ke TPA.
Dengan volume sampah yang mencapai sekitar 233–250 ton per hari, kota ini menghadapi tantangan besar, terlebih dengan keterbatasan kapasitas TPA Sarimukti yang selama ini menjadi tujuan utama.
Karena itu, Pemkot Cimahi mulai mendorong penguatan pengelolaan sampah mandiri di dalam kota, antara lain melalui pengembangan fasilitas seperti TPST serta berbagai inovasi berbasis komunitas.
“Target kami ke depan adalah mengurangi ketergantungan ke TPA dan mengelola sampah di dalam kota,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini.
Saat ini, baru sekitar separuh sampah Kota Cimahi yang dapat dikelola secara mandiri. Sisanya masih bergantung pada sistem pembuangan luar daerah.
Di titik inilah inovasi seperti yang dilakukan di Melong 26 menjadi relevan. Inovasi tersebut bukan pengganti sistem yang ada, tetapi pelengkap yang memperluas cara pandang, bahwa sampah tidak harus selalu berakhir di TPA.
Dukungan pemerintah pusat
Di sisi lain, ia juga menyebut bahwa inovasi ini telah didukung oleh pemerintah pusat melalui memberikan payung kebijakan yang lebih jelas melalui Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2025 sehingga pengolahan sampah plastik menjadi energi terbarukan mendapat dukungan regulatif.
Artinya, hal yang dilakukan di level komunitas kini mulai masuk dalam kerangka kebijakan nasional.
“Dan syukurnya, sekarang kami didukung pemerintah. Teman-teman BRIN, kemudian pemerintah dari ESDM juga support kami. Terakhir keluar Perpres Nomor 9 Tahun 2025. Itu juga salah satu bentuk support untuk alat ini, minyak terbarukan spesifik berbicara tentang sampah plastik menjadi minyak terbarukan,” ujarnya.
Mendorong kualitas dari inovasi
Sementara itu, Wahyu Dharmawan sebagai inisiator lainnya menekankan bahwa inovasi ini tidak hanya berbicara soal ide, tetapi juga kualitas.
Salah satu indikator penting adalah cetane number, ukuran kualitas pembakaran bahan bakar diesel.
“Produk kami berada di kisaran 54 sampai 56. Itu setara bahkan di atas beberapa solar yang ada di pasaran,” ujarnya.
Selain itu, Petasol telah melalui 17 parameter uji dan pengujian performa hingga 50 ribu kilometer. Bagi mereka, angka-angka itu bukan sekadar data, tetapi pembuktian bahwa inovasi berbasis komunitas juga bisa memenuhi standar teknis.
Dukungan dari lembaga riset dan kementerian semakin memperkuat langkah ini, termasuk proses menuju sertifikat niaga agar distribusi bisa dilakukan lebih luas dan resmi.
Namun di balik semua angka, teknologi, dan kebijakan, inti dari cerita ini tetap sederhana, bahwa di sebuah sudut Kota Cimahi, ada sekelompok orang yang memilih melihat sampah bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal.
Awal dari energi. Awal dari peluang, dan mungkin, awal dari cara baru memandang hal-hal yang selama ini dianggap tak berguna. Dari tumpukan plastik yang dulu hanya dianggap beban, kini perlahan lahir sesuatu yang menggerakkan kehidupan yang meski kecil, tapi nyata.(*)
Editor: Dadan Ramdani
Komentar