Halmaherapedia– Dinas Kesehatan Kota Ternate merilis dampak kebakaran hutan dan lahan di Kota Ternate memberikan dampak serius terhadap kesehatan warga kota. Di wilayah terjadinya kebakaran menghasilkan asap dan partikel pencemar udara yang berisiko mengganggu kesehatan.
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah kawasan termasuk Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru Takome, Kecamatan Ternate Barat Kota Ternate, membawa dampak kesehatan yang serius.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pekan ini, saat Karhutla terjadi, jumlah kasus infeksi saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Ternate melonjak hingga 446 kasus. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar 38 persen dibandingkan minggu ke-38 yang mencatat 321 kasus. Secara khusus, peningkatan signifikan terlihat di wilayah kerja Puskesmas Sulamadaha di dekat lokasi kebakaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma menjelaskan, peningkatan kasus ini memang terjadi bersamaan dengan munculnya kabut asap akibat kebakaran di sejumlah wilayah termasuk di kawasan TPA Buku Deru-Deru.
Meski begitu dia meminta pentingnya kehati-hatian dalam menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung.
“Definisi kasus ISPA yang terdata ini mayoritas merupakan ISPA ringan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga iritasi akibat paparan asap,” ujarnya.
Menurutnya dalam kasus ini butuh kajian lanjut dengan mempertimbangkan faktor perubahan musim, peningkatan penjaringan kasus oleh petugas di lapangan, serta data resmi kualitas udara.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dinas Kesehatan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya, penguatan mitigasi, pemantauan tren lanjutan, analisis kualitas udara serta pemetaan wilayah terdampak.
Saat ini, Dinkes Ternate memperketat edukasi penggunaan masker dan meningkatkan perlindungan bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, dan penderita komorbid).
Dinkes intens dan berkala melakukan pemantauan tren kasus ISPA pada minggu ke-40 dan 41 untuk melihat apakah angka kasus akan menurun seiring hilangnya asap.
Perkembangan Kasus ISPA per Minggu
Data kasus ISPA di wilayah kerja Puskesmas:
| Minggu | Jumlah Kasus |
| Minggu 36 = | 15 kasus |
| Minggu 37 | = 28 kasus |
| Minggu 38 | = 37 kasus |
| Minggu 39 | = 51 kasus |
Kasus meningkat dari 15 menjadi 51 kasus atau naik 36 kasus dibanding Minggu 36 (sekitar 240%).
“Warga perlu waspada karena asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk gejala ISPA, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan,” imbaunya.
Langkah perlindungan mengurangi aktivitas di luar saat berasap, gunakan masker yang sesuai saat keluar rumah. Tutup jendela dan pintu bila asap masuk segera ke fasilitas kesehatan jika sesak napas atau gejala memburuk.(*)
Komentar