Home Headline Warga Malut Lemah dalam Literasi Keuangan
HeadlinePolmasSerba-serbi

Warga Malut Lemah dalam Literasi Keuangan

Bagikan
Bagikan

 Halmaherapedia— Literasi keuangan masyarakat Maluku Utara terbilang masih lemah. Tidak heran, warga sering kali menjadi korban program investasi yang tidak bertanggung jawab.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Utara menyebutkan, tingkat literasi keuangan masyarakat Maluku Utara berada di angka 48,65 persen. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 69,57 persen berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.

Hal ini disampaikan pihak OJK dalam kegiatan edukasi melalui Workshop Makanan Adat Ternate yang dilaksanakan Kamis (22/10/2026) di kawasan Kedaton Ternate.

Workshop yang dipadukan dengan upaya memperkuat pemahaman masyarakat tentang keuangan ini diselenggarakan Kantor OJK Provinsi Maluku Utara bersama PT Pegadaian Cabang Ternate. Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 100 peserta sebagai bagian dari program literasi dan inklusi keuangan.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya diajarkan mengolah dan melestarikan makanan khas Ternate, tetapi juga diajak memahami cara mengelola keuangan dengan lebih bijak. Termasuk, bagaimana masyarakat mengenali modus dan ciri-ciri penipuan di sektor jasa keuangan yang marak belakangan ini.

Pada kesempatan itu, pihak OJK menyampaikan materi tentang Pelindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan. Sorotan utamanya adalah penanganan aktivitas keuangan ilegal dan penipuan transaksi keuangan.

Asisten Direktur Madya OJK, Sukma Aji Wirawan, mengatakan kesenjangan tingkat literasi keuangan menjadi salah satu alasan OJK gencar memberikan edukasi kepada berbagai kelompok masyarakat.

“Kesenjangan inilah menjadi alasan OJK gencar memberikan edukasi kepada berbagai kelompok masyarakat,” kata Sukma Aji Wirawan saat membawakan materi.

Ia mengatakan, melalui kegiatan workshop seperti yang sedang dilaksanakan tersebut, warga diingatkan untuk lebih memahami literasi keuangan.

Menurut Sukma, rendahnya literasi keuangan membuat masyarakat lebih rentan terhadap pengelolaan keuangan yang buruk, minim perencanaan jangka panjang, serta mudah terjerumus dalam investasi bodong maupun pinjaman online ilegal.

Ia menjelaskan, ciri-ciri yang membedakan pinjaman online ilegal dengan pinjaman daring (pindar) yang terdaftar dan diawasi OJK dapat dilihat dari legalitas usaha, batasan bunga dan denda, hingga mekanisme penagihan.

Sukma juga memperkenalkan prinsip sederhana 2L, yakni Legal dan Logis. Ia mengingatkan masyarakat agar senantiasa menerapkan semboyan “Jangan Abal, Jangan Asal, Jangan Abai” sebelum berinvestasi.

Tidak kalah penting, Sukma turut mengingatkan peserta untuk mewaspadai modus impersonation, yakni peniruan identitas resmi lembaga jasa keuangan di media sosial yang kerap digunakan pelaku untuk menipu korban.

“Jika masyarakat menemukan indikasi aktivitas keuangan ilegal atau penipuan transaksi keuangan, diharapkan agar segera melapor melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), baik lewat layanan SIPASTI (sipasti.ojk.go.id), Indonesia Anti-Scam Centre (iasc.ojk.go.id), maupun kontak OJK di nomor 157,” saran Sukma.

Selain memberikan pemahaman tentang perlindungan konsumen, kegiatan tersebut juga memperkenalkan alternatif menabung dan berinvestasi yang dapat diakses masyarakat.

Victor Samuel Supit, Manajer Bisnis PT Pegadaian Cabang Ternate, dalam pelatihan itu memperkenalkan Tabungan Emas Tring sebagai salah satu alternatif menabung dan berinvestasi emas yang aman dan mudah diakses masyarakat.

Ia mengajak masyarakat, termasuk peserta yang hadir, untuk mulai menyisihkan sebagian pendapatan dalam bentuk tabungan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Tabungan emas juga diperkenalkan sebagai aset yang nilainya relatif stabil dari waktu ke waktu.

Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian program literasi dan inklusi keuangan Kantor OJK Provinsi Maluku Utara.

Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, program tersebut telah menjangkau 6.742 peserta melalui 40 kegiatan di 10 kabupaten/kota. Kegiatan didominasi oleh program perluasan akses keuangan daerah dan pemberdayaan literasi finansial generasi muda.

(aji)

Bagikan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait
HeadlineSejarah dan Budaya

Dari Pala hingga Tenun Koloncucu, Kekayaan Komunal Menyebar dari Pulau ke Pulau

 Halmaherapedia— Dari harum pala yang tumbuh di tanah rempah hingga lembaran kain...

HeadlineKota Ternate

Dampak Karhutla Infeksi Saluran Pernapasan Akut Meningkat

Halmaherapedia-- Dinas Kesehatan Kota Ternate merilis dampak kebakaran hutan dan lahan di...

HeadlinePolmasSejarah dan Budaya

Merawat Keberagaman Lewat Ikatan Basudara dan Falsafah “Ale Rasa Beta Rasa”

Falsafah “Ale Rasa Beta Rasa” menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk...

DaerahHeadlinePolmas

Penurunan Stunting di Kepsul Halmahera Utara Masih Rendah

Halmaherapedia— Upaya percepatan penurunan stunting di Maluku Utara masih menghadapi sejumlah persoalan....