Biayai Kuliah Sendiri hingga Bantu Ekonomi Keluarga
Halmaherapedia.com– Banyak mahasiswa memiliki kendaraan pribadi roda dua. Hanya saja mereka fokus kuliah (belajar dalam kelas). Berbeda dengan M Ardi 23 tahun, salah satu mahasiswa yang memanafaatkan motornya menambah pengasilan (cuan).
Ardi yang saat ini menempuh studi akhir sebagai mahasiswa Sastra Inggris Universitas Khairun itu berprofesi sebagai penarik ojek online. Mahasiswa yang saat ini tinggal menunggu diwisuda itu melakoni profesi ini sejak setahun lalu kala masih berstatus mahasiwa aktif.
Dia sudah memilih profesi ini dan beraktivitas di luar kampus sebagai ojek online (ojol). Alasan dia sederhana, ingin membiayai kuliah dan juga membantu ekonomi keluarganya.
Mungkin bagi sebagian mahasiswa canggung dan terbebani dengan profesi seperti dia jalani ini. Tapi baginya tidak. Menurutnya, menjalani aktivitas ojek online membuatnya bisa mendapatkan uang tambahan selama perkuliahan dan tidak bergantung pada orang tua.
“Saya ingin bantu orang tua meringankan biaya hidup dan kuliah karena itu saya kerja tukang ojek online,” ujar Ardi Sabtu (17/1/2026).
Dia merasa tidak terbebani membagi waktu kuliah dan kerja karena bisa diatur. Hal inilah yang membuat perkuliahannya tidak terganggu dan dijalani dengan senang hati.
“Pekerjaan ini fleksibel. Saya bisa atur jam kerja sendiri sambil kuliah,”katanya.
Sepanjang kuliah dia tidak mengikuti kegiatan kemahaisiswaan. Dia lebih banyak mengikuti kegiatan di luar kampus dan hanya fokus studinya. Dia juga tidak ingin seperti teman-temannya yang ikut organisasi tetapi karena hanya ikut-ikutan.
Pria kelahiran Ternate ini juga cerita suka duka menjadi ojol di Kota Ternate setahun ini. Dia bilang senang menjadi Ojol karena bisa bertemu banyak orang dan bisa jalan-jalan menyusuri kota. Selain itu, yang membuatnya bangga karena sudah bisa mengasilkan uang.
Bagiamana dengan dukanya?
“Sukanya banyak bertemu orang baru, baik rekan sesama ojol maupun customer yang buat orderan. Selain itu ikut mengeksplore kota, juga bangga bisa menghasilkan uang sendiri. Sementara dukanya kadang orderan sepi, cuaca ekstrem seperti hujan deras, dan menghadapi pelanggan kurang ramah atau perjalanan jauh tapi ongkosnya kecil,”sambungnya.
Walau ada rencana kerja di luar daerah setelah wisuda, dia masih mengisi terus waktu seperti biasa.
Menurutnya, pekerjaan sebagai ojol sering dianggap sepele oleh banyak orang. Khususnya mahasiswa yang malu menjalani profesi sebagai Ojol. Kadang dia mendapat orderan di kampus, dia merasa tidak malu karena hasilnya sangat membantunya mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan pendapatannya dia bagi juga kepada orang tua.
“Pendapatan bulanannya tidak pasti, tapi rata-rata sekitar Rp3juta sampai Rp5 juta tergantung banyaknya orderan yang saya terima,”ujarnya.
Sementara pendapatan perhari berkisar Rp. 150.ribu hingga Rp. 200ribu. Pendapatan ini sering kali berubah-ubah tergantung orderan.
Di tengah gengsi melanda anak muda khususnya mahasiswa bekerja seperti ini, dia berpesan agar tidak perlu gengsi cari uang. Ojol itu pekerjaan yang bisa dilakukan di waktu senggang dan sangat membantu perekonomian keluarga.
“Kalau ada kesempatan jadi Ojol atau freelance, coba saja. Yang penting tetap jaga kuliah dan ingat tujuan utama di kampus,” pesan Ardi kepada teman-teman mahasiswa.
Sementara terkait larangan ojol beroperasi di beberapa tempat, seperti Pelabuhan Semut Kota Baru dan beberapa titik lainnya. Menurutnya larangan beroperasi di titik-titik yang sudah ditentukan merupakan tidakan tidak adil. Larangan itu sangat meresahkan.
“Saya berharap pemerintah memberi solusi yang adil. Larangan ojol mengambil penumpang di beberapa tempat itu sangat meresahkan. Pada dasarnya, setiap penumpang atau konsumen memiliki hak memilih jenis transportasi yang ingin ditumpangi,”kata Ardi. (mg1)











