Kisah Olbert Sanggetan, Hidupan Ekonomi dari Pekarangan Rumah   

Halmaherapedia.com– Hari masih pagi, namun Olbert Sanggetan (38) sudah sibuk menyiangi reremputan dan gulma pengganggu yang tumbuh bersama sayur  buncis   awal Januari 2025 lalu. Selain menyiangi  tanaman yang mulai tumbuh  dia juga   memperhatikan satu persatu  tanaman  yang mulai tumbuh.

Olbert warga Desa Lelesang Kecamatan Kao Barat Halmaera Utara ini adalah satu-satunya warga yang mencoba memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya untuk mengembangkan  sayur  yang laku dan dibutuhkan  warga di kampungnya. Dia mengusahakan pekarangan tidak begitu luas hanya berkisar  40×50 meter persegi, untuk  mengembangkan sayur 2 bulanan tersebut.

Jika warga sekampung membiarkan pekarangan   luas terbengkalai,  tidak dengan Olbert. Dari   memanfaatkan pekarangan, kini dia tidak hanya bisa mengkonsumsi sayur    tetapi juga   dijual  ke pasar.

“Halaman rumah di kampung ini sudah biasa pasti luas. Karena itu saya coba manfaatkan. Dari pada dibiarkan terbengkalai,” kata Olbert.

Menurutnya, kondisi ini bukan berarti warga sekampungnya malas. Kebanyakan dari mereka   beraktivitas di kebun.  Masyakat  Desa Leleseng  yang berpenduduk kurang lebih 300 KK ini  rata- rata adalah petani kelapa.

“Waktu saya lihat pekarangan  luas, saya berpikir  mengapa pekarangan rumah dibiarkan penuh rerumputan  tidak dimanfaatan. Muncullah ide  lahan  500 meter persegi  ini   ditanami sayur buncis,”kisahnya.

Diakui, memang  tidak punya pengalaman khusus dalam menanam sayur. Hanya modal  nekat dan ada kemauan  Olbert  mulai membuka lahan berukuran  500 meter persegi  tersebut   dan  menanam sayur  buncis .

“Ada pertimbangan memilih buncis karena  tidak begitu lama langsung dipanen. Terhitung dari  tanam dan panen  total 45 hari,” katanya.

Dengan  modal awal Rp900 ribu lebih  berbekal sedikt informasi saat  mengikuti sosialisasi dari penyuluh  dia memulai usahanya.

Sebagai petani yang masih awam selama proses menggarap lahan, ia  alami kesulitan karena kala itu memasuki  musim penghujan.

Meski begitu dia  berusaha    beradaptasi dengan aktivitas barunya itu dan  mencari cara agar usaha tetap berhasil.

“Awalnya sangat sulit. Kesulitannya adalah pengelolaan lahan di musim hujan,” ujar Olbert  Rabu (21/1/2026) .

Sebagai petani  yang baru saja terjun dalam pengelolaan tanaman buncis,   dia kesulitan mengelola dan merawat tanamannya.

“Sebagai petani pemula  merasa  tingkat kesulitannya tinggi,” tuturnya. Diakui  sebagai  lulus  Sekolah Menengah Atas (SMA),  tidak punya bekal pengetahuan pertanian apalagi di bidang hortikultura. Karena    itu yang dilakukan ini  memilih jalan berani   menjadikan sesuatu yang tidak  bermanfaat bagi orang lain, tapi bisa bernilai. Dia  percaya,  setiap usahanya akan berhasil  asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Setelah melewati masa  sulit, kini Olbert sudah bisa menikmati hasilnya. Awalnya hanya coba-coba, sayur buncisnya kini sudah 7 kali panen dan sangat membantu keluarga. Hasil panen tidak hanya dimakan, tapi  bisa dijual dan sangat membantu ekonomi keluarga.

“Setelah panen,  hasilnya luar biasa.  Hal ini yang semakin memotivasi  saya  lebih tekun  lagi,” tutur Olber sambil.

Buncis  dihargai per kilo  Rp10.ribu. Saat  panen pertama,   mendapat 50 kg buncis. Artinya dalam  45 hari saja dari halaman rumahnya Olbert sudah mendapatkan Rp. 500 ribu.  Olbert menuturkan, waktu  itu jika tidak musim hujan,   bisa memanen  lebih  80 kg sampai 90 kg. Namun karena musim hujan  sebagian sayur tergenang lalu mati.

“Hujan  dan menyebabkan banjir  hingga pekarangan tergenang air  jadi tanaman mati ,” cerita Olbert.

Di tengah bahagia bisa memanen hasil  sayur, Olbert merasa ada tantangan. Banyak orang menganggap  Olbert  memaksa diri menjadi seorang petani buncis tanpa pengalaman.

“Warga  menganggap  remeh apa yang saya lakukan. Namun saya tetap bertahan dan  komitmen hingga usaha dari pekarangan ini  berhasil,”  ujarnya.

Olbert sendiri merasa  senang karena bisa belajar hal baru dan bermanfaat bagi dirinya dan keluarga. Selain itu, hasil panen buncis  tidak hanya dinikmati  keluarga  tetapi bisa dirasakan  tetangganya. Hasil buncis dari  pekarangannya akan ditabung untuk biaya pembangunan rumanya.

“Dari halaman rumah yang kecil ini bisa membantu ekonomi rumah tangga, tetangga, bahkan hasil penjualan bisa ditabung,” tutur Olbert.

Kini Olbert berencana melanjutkan   usahanya   karena memiliki prospek  yang baik dan menguntungkan.

“Halaman rumah   tidak akan kosong lagi. Pekarangan rumah   menjadi lahan produktif.  Bertani buncis sangat mudah diusahakan. Modal sedikit namun untungnya besar,” tutup Olbert.(mg1)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *