Halmaherapedia—Rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 yang dipusatkan di Ternate mulai dihelat Selasa (25/8/2026) pagi. Diawali dengan sesi Master Class mendalam dan Praktik Seni Graifis.
Lokasi acara di Benteng Tolluco itu, agenda pendalaman materinya di Ake Gaale Book Café Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara yang juga bagian dari tempat aktivitas Komunitas Save Ake Gaale.
Agenda pertama pendalaman materi dan diskusi ini dipandu langsung oleh salah satu pemateri hebat dari Jakarta yang juga seorang kurator seni, penulis dan akademis yakni Diaz Ramadansyah. Selain itu ada juga Didik salah satu pelaku seni grafis yang mengawal 20 peserta yang ikut kegiatan ini.

Diaz saat memaparkan materinya tentang Master Class Seni Grafis dan Kuratorial, memberikan penguatan kepada peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa aktivis komunitas bahkan PNS.
Diaz menjelaskan, untuk memulai sebuah desain harus mampu membaca apa yang ada di sekitar. Terutama yang sangat dekat dengan hidup sehari-hari.
“Untuk membuat sebuah gambar atau desain perlu ada sesuatu yang mau diajukan. Artinya kita mau bicara apa atau siapa yang akan kita wakili,” katanya.
Dia bilang lagi, ketika melihat hasil seni grafis dalam bentuk sebuah poster, maka tidak hanya melihat warna, tipografi atau ilustrasi. Di dalamnya akan dilihat sejarah ideologi, identittas, memory, bahkan relasi kuasa.
Dia bilang lagi, dalam hal ini jika ada projek desain yang dikerjakan maka yang diwakili adalah pemilik projek tersebut bukan orang atau pihak yang mendesain dari grafis itu.
Begitu juga sebagai seorang yang menggeluti seni grafis, ketika melihat sebuah objek perlu meahaminya secara komprehensive. Tidak hanya melihat semata – mata benda atau objek tersebut, tetapi ada banyak veriabel atau cerita dalam benda itu.
Misalnya, melihat benteng Tolucco tentu tidak hanya benteng sebagai benda tetapi dari berbagai aspek, mulai dari arsitek, sejarah hingga cerita yang berhubungan dengan benteng tersebut.
Dia juga banyak berbicara tentang Heritage. Menurutnya perlu melihat dan memahami heritage secara menyeluruh. Tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga dari nilai praktik, pengetahuan, dan pengalaman yang hidup di dalamnya.
“Ketika menyebut Ternate banyak sekali hal yang berhubungan dengan Ternate. Dari banyak hal yang dicatat tentang Ternate itu, bisa menjadi sebuah karya seni grafis,”ujarnya.
Sebuah hasil seni grafis atau karya apa pun itu, tidak benar benar netral. Pesan dari karya itu kepada siapa. Agar pesan hasil karya itu bisa sampai maka diperlukan metode, yakni metode menyampaikan pesannya. Misalnya dalam simbol, warna dan lain-lain.

Setelah menjelaskan panjang lebar seni grafis, peserta kemudian diarahkan ke kawasan Benteng Toloko melihat dari dekat Benteng serta mencatat berbagai data dan informasi sebagai bagian dari riset awal sebelum membuat sebuah karya seni grafis.
Kegiatan ini dipandu langsung Didi pemateri lainnya dalam Master Class Deep Session and Practice.
Rangkaian Rakernas JKPI yang difasilitasi Incubator ini, selain menyelenggarakan master class untuk seni grafis, juga Gastronomi dan cultural economy untuk pengolahan bambu yang difokuskan di beberapa tempat di Ternate .
Penanggung jawab iven Master Class, Cris Boki menjelaskan, hari pertama ini, adalah bagian utama dari rangkaian Rakernas JKPI yang akan dihelat pembukaanya pada Rabu (26/8/2026) ini di Ternate.
“Untuk hari kedua kegiatan seni grafis langsung difokuskan di Benteng Toloko,”tutupnya.(aji)
Komentar