Hutan dan Adat Orang Sumba dalam Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam

Opini dan Sastra161 Dilihat

 Sebuah Catatan dari  Novel Karya Dian Purnomo

Setiap daerah yang memiliki adat dan budaya, punya cara pandang yang berbeda tekait hutan. Dia tidak bisa dilaspisahkan dengan masyarakat adat, karena dua-duanya hidup berdampingan. Masyarakat adat tumbuh bersama hutan, dan saling memberikan kehidupan satu sama lain. Karena dua-duanya saling membutuhkan, maka hutan dan masyarakat adat punya ikatan khusus yang itu bisa dilihat keduanya  saling menjaga.

Pandangan umum terkait masyarakat memandang hutan adalah sumber kehidupan. Tidak ada yang lain. Hutan adalah nafas untuk mereka bertahan hidup di wilayah mereka hingga ratusan tahun. Bisa ditemukan saat ini masih ditemukan “o hongana manyawa” suku asli Tobelo dalam yang masih bertahan hingga saat ini.

Penelitian juga laporan jurnalistik melaporkan hal yang sama. Hutan dan masyarakat adat tidak bisa dipisahkan, karena mereka adalah satu kesatuan. Hal ini juga terdapat pada masyarakat adat Sumba yang laporkan oleh Dian Purnomo dalam novelnya berjudul “Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam”.

Dalam sebuah kutipan novel ini, dijelaskan bahwa ada aturan adat yang sangat ketat sebelum masyarakat masuk ke hutan. Masyarakat Sumba percaya bahwa hutan tidak hanya memberikan kehidupan, tapi juga memberikan kutukan bisa dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Masyarakat di Sumba percaya bahwa hutan adalah tempat roh jahat. Mereka bisa dengan mudah menyamar menjadi manusia dan mencelakai jika penduduk melanggar peraturan-peraturan yang ada. Untuk menghindari roh jahat di hutan, mencelakai pemburu dan pencari kayu, masyarakat memiliki bahasa khusus yang hanya digunakan di dalam hutan.” Hal 94.

Kutipan ini, menunjukan bahwa masyakat Sumba dalam memperlakukan hutan sangatlah hati- hati karena dapat menerima ganjaran dari roh jahat. Oleh sebab itu, walau begitu dekat masyarakat Sumba dengan hutan  yang telah memberikan kehidupan, mereka  tidak senaknya saat masuk hutan.

Selain itu, untuk menghidari bahaya saat memasuki hutan, masyarakat Sumba memakai bahasa khusus. Dalam komunikasi, masyarakat Sumba memakai tiga bahasa yang berbeda tergantung kondisi. Dian Purnomo melaporkan bahwa, tiga bahasa yang harus dipelajari oleh masyarakat Sumba Barat yaitu bahasa adat, bahasa sehari-hari, dan bahasa hutan bisa dilihat pada kutipan di bawa ini. “Orang Sumba Barat ini punya tiga bahasa yang harus dipelajari, bahasa sehari-hari, bahasa adat, dan bahasa hutan.” Hal 94-95.

Dalam novel ini, menceritakan bahwa agar tehindar dari roh jahat saat masuk  hutan maka tidak bole memanggil nama. Orang  Sumba saat memasuki hutan, mereka akan saling menyapa dengan sebutan “Oo’o”.  Masyakat adat Sumba Barat begitu dekat, tetapi kepercaayan masyarakat terkait karma hutan masih diterapkan. HAl itu juga yang  membuat hutan tetap terjaga. Orang Sumba melihat hutan dalam Novel “Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam” tidak hanya sebagai sumber kehidupan.

Hasil hutan bisa didapatkan dengan gratis tanpa harus ke pasar untuk mencukupi kebutuhan mereka. Adat Sumba percaya bahwa hutan itu anugrah juga kutukan. Melestarikan hutan berarti terhindar dari ancaman roh jahat. Menghacurkan hutan, sama halnya menghacurkan diri sendiri dan anak masa depan anak cucu. Selain itu, memperlakukan hutan dengan baik sama halnya menjaga ketahana pangan masyakat sekitar. Dian Purnomo lewat novelnya berjudul “Perempuan yang Menangis pada Bulan Hitam”adalah cerminan fungsi hutan untuk  keselamatan jangka panjang.

Penulis: Apdoni  Tukang, jurnalis Halmaherapedia.com 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *